Sebuah seni untuk bersikap bodoamat!
Saya menyadari bahwa saya bukanlah Tuhan yang mengetahui masa depan saya. Jika saya diperbolehkan untuk jujur, saat ini saya menyadari bahwa ada begitu banyak teka-teki. Satu hal saya tau saya memiliki prinsip, dasarnya adalah: Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan (Amsal).
Ketika Tuhan tetapkan sebuah panggilan untuk kita, bukankah Dia juga mempersiapkan kita? Perkara teman hidup bukanlah hal mudah...
Beberapa waktu yg lalu saya begitu bergumul tentang teman hidup dan mereka-reka firman Tuhan hingga akhirnya saya memilih untuk berpasangan dengan seseorang. Pada kenyataannya,
ternyata saya belum benar-benar mengerti apa kerinduan hati Tuhan atas hidup saya. Tuhan biasanya tidak akan memberikan semua keinginanmu, namun Tuhan akan memberikan apa yang menjadi kebutuhanmu.Saat saya serahkan hati saya padaNya, saya sangat yakin bahwa Dia tidak akan membuat saya kecewa. Pun kalau saya terjatuh, tidaklah sampai tergeletak. At the end, saya menyadari Firman Tuhan vs Realita, tidak sesederhana itu Ferguso! Saya sempat dilema antara saya yang mereka-reka firman Tuhan untuk cocokologi, atau memang saya yang tidak mau untuk mengerjakan panggilan saya yang sesungguhnya?
Saya bergumul, namun semakin menjalaninya, saya semakin tidak yakin, semakin terintimidasi, semakin goyah. Sungguh ada yang aneh. Entahkah saya yang terlalu melayang atau justru malah terlalu duniawi. Saya baca di buku Sacred Search bahwa TH itu pilihan. Saya juga tetap meyakini kalau saat kita berjalan dan kalo kita salah jalan, Tuhan akan membelokkan kita ke jalan yang benar lagi.
Sebuah kesepakatan menjadi begitu penting dalam hubungan perTHan. Begitu banyak intimidasi yang muncul untuk memutuskan mengakhiri ini semua ini. Mulai dari kegagalan saya menjadi teladan, hingga mental menghadapi orang-orang yang berelasi dengan saya.
Saya menyadari, terkadang bodo amat itu perlu. Membiarkan orang berjalan sesuai dengan opininya masing-masing. Tuhan yang memandang kepada hati manusia, penghakiman adalah milik Allah, bukan manusia. Jika benar, saya dihakimi manusia, biarkan Roh Kudus membantu saya untuk merespon situasi dengan benar. Satu hal lagi yang saya tau: berjalankah dua orang, jika mereka belum berjanji? Ketika jelas tidak ada kesepakatan di antara kedua belah pihak, bukankah memang artinya kami tidak bisa jalan bersamaan?
Berhati-hatilah saudaraku...
Sebab kamu akan terus bertumbuh dan berubah. Karaktermu akan semakin bertumbuh (entah ke baik atau ke buruk, itu pilihan). Kesepakatan menjadi penting untuk bisa menjalani kehidupan bersama yang akan berlangsung paling tidak setengah abad hingga maut memisahkan. Saya berbicara bukan berbicara soal apakah artinya ini tidak beriman atau justru harusnya beriman. Saya belajar satu hal bahwa ketika salah satu insan pun tidak bisa merendahkan diri (dalam hal ini termasuk saya) di masa ber TH, apalah daya nanti di bahtera Rumah Tangga? Bukankah tantangannya akan semakin sulit? Konsekuensi yang ada memang saya terima. Saya bersyukur bahwa apapun yang terjadi, saya sungguh dikasihi olehNya. Ini bukan soal kamu dikasihi ketika kamu taat sama panggilanNya. Dia sudah mengasihi saya apa adanya tanpa saya harus membuktikan padaNya bahwa saya mengasihiNya lewat panggilan yang mungkin dikata orang sulit sehingga saya tidak mau taat.
Kedewasaan rohani seseorang akan tampak ketika ia sedang ada dalam tekanan. Mengenai siapa yang dia andalkan, siapa yang dia harapkan, mengenai siapa yang dia sembah, ya begitulah (bukan untuk menghakimi siapapun), saya mengoreksi diri saya sendiri saat ini.
Ya, Tuhan Allah melihat hati kita. Ya, Tuhan Allah mengerti mana yang terbaik. Perjalnan ini justru menunjukkan kepada saya betapa saya lemah tanpa Dia. Betapa saya bejana yang begitu hancur di hadapanNya. Betapa saya tidak mampu menguasai diri saya tanpa pertolonganNya. Ini tidak lagi menjadi intimidasi, namun justru membuat saya berlari kembali kepadaNya.
Its ok not to be ok (gak papa kok kalo nggak baik-baik aja).
Pengerjaan panggilan dikerjakan dengan sukacita dan alasannya untuk menyenangkan hatiNya. Bukan untuk berpura2 membujukNya supaya senang hatiNya, ketika kita mengerjakan panggilan yang menurut kita itu panggilanNya untuk kita. "Hati-hati dengan sikap hati yang terlihat Holy"
Terimakasih Tuhan Yesus, I will always Love You.
In Relationship with God
Tidak ada komentar:
Posting Komentar