Sabtu, 06 Februari 2021

Sebuah Kisah anak SMA (Part 16 Final...)

Wah udah kayak drama korea aja ye, 16 episode...

Jadi hari ini akhirnya kami bertemu kembali setelah 1 bulan saling menenangkan diri/karantina hati kalau bahasanya doi.

Well, aku begitu takjub dengan perubahan hidupnya. Semua kekhawatiranku sirna ketika bertemu dengan sang Pria Daud. 

Aku yang tadinya begitu menantikan hari yang disebut "minggu depan" itu, ternyata akan betul segera dipertemukan. Well, aku perlu memberikan waktu jeda selama 1 minggu untuk meyakinkan diriku. Yah, kalau diingat kembali momen bersama yang lalu, aku khawatir di waktu yang seminggu itu, ceritaku habis dan akhirnya keceplosan di awal tentang semuanya, hahaha. Tapi ya, Tuhan itu tetap berdaulat atas relasi ini. Tiba-tiba saja aku dapat tugas ke luar kota untuk melakukan kunjungan khusus selama 1 minggu. Kurasa inilah kesempatan menenangkan hati yang Tuhan berikan supaya aku dan dia tidak berkomunikasi seintens dulu lagi, meskipun aku sudah tidak lagi memblokirnya, karena hari H pertemuan akan segera tiba.

Sampai sekarang pun aku masih takjub dengan pertemuan ini. Segala hal yang dirancang manusia tentu akan terlaksana jika sesuai dengan kehendak Allah. Kami bertemu di tanggal 24 Januari 2021 dan di situ si Pria Daud akhirnya menyatakan segala sesuatunya. Isinya terdiri dari 3 sesi. Sesi 1 basa basi dan menceritakan kisah tentang apa saja yang dia alami, sesi 2 adalah fase menyatakan janji Tuhan, rencana dan target ke depan, dan sesi 3 adalah sesi menyatakan perasaan cinta oleh sang Pria Daud. Hahaha sungguh sistematis acaranya ya.

"Perasaan itu mulai tumbuh ketika kita tidak bisa saling berkomunikasi." Begitu katanya. Betul saja kisah-kisah yang lalu bahwa memang Pria Daud ini tidak memiliki perasaan apapun kepadaku. Betullah bahwa dia jujur mengenai tidak pdkt, tidak punya rasa spesial, seperti yang dia sampaikan di awal. Namun statemen tersebut dipatahkan oleh sebuah fase blokir kontak yang kulakukan.

Hari ini aku melihat kebucinan sang Pria Daud yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Bagaimanakah denganku?

Tuhan membuat segala rasa di hatiku sirna, sirna segala kebucinan yang lalu kurasakan. Mengapa begini? Akupun tak tahu. Toh sebuah komitmen dimulai tidak hanya dengan rasa suka, bukan? Aku betul-betul takjub dengan segala pekerjaan Tuhan sampai akhirnya kami berdua bertemu.

Aku tidak menyangka bahwa segala yang Dia sampaikan lewat Firman dan segala peristiwa itu betul-betul terjadi dalam hidupku. Jawabanku?

Aku akan menceritakan semua kepadanya, semua tentang kisah kami berdua dari part 1 hingga akhir ini, hahaha. Artinya, ya betullah, jika Tuhan berkehendak, aku akan kembali ke kota Jogja satu minggu yang akan datang, kemudian mengutarakan semuanya.

Dan endingnya, tanggal 3 Februari lalu kami bertemu dan aku menerima dia (sang Pria Daud) menjadi teman hidupku.

Rasa syukur yang teramat sangat kepada Bapa tidak terkatakan lagi saking amazing nya perjalanan ini.

Moral value: jika kamu mengandalkan yang patut diandalkan, semua akan indah pada waktuNya, bagianmu adalah: "percaya saja!".

God Bless you

See you on the next Journey of Faith ❤😊

Sebuah Kisah anak SMA Part 15 (banyak sekali cerita)

Tanggal 11 Januari 2021

Aku kembali mengingat begitu banyak hal yang terjadi di tahun 2020, khususnya sejak aku tidak berkomunikasi dengan si Pria Daud, sejak 13 Desember lalu, hingga sekarang. Wow, sungguh banyak sekali cerita yang ingin kuceritakan padanya nanti.

Mulai dari aku yang tes antigen di stasiun, bertemu kembali dengan kakak rohaninya, hingga seorang kawan yang berpulang tiba-tiba. Aku ingin bercerita banyak hal yang semoga dalam waktu seminggu nanti, cerita itu tak habis-habis.

Jadi, hari Sabtu lalu, aku ditelepon oleh dua sejoli yang jadi pembimbingku dalam masa penantian ini. Mereka mengatakan bahwa baru di akhir bulan kami akan bertemu dan berkomunikasi lagi. Hahaha, senang sekali hati ini. Karena memang benar saja, sudah lama sekali rasanya (padahal sebulan aja belum ya khan!) tidak bercerita kepadanya.

Sebuah rindu muncul di awal-awal penantianku akan si Pria Daud ini. Namun, aku komunikasikan itu sama Tuhan. Karena aku tau, walaupun kami nggak bisa komunikasi, setidaknya, kami masih terhubung oleh doa (hiya..hiya..hiya... Aku tidak tau apa yang sedang ia pikirkan di sana, atau apa yang dia alami di sana namun setiap kali rasa khawatir muncul, aku mencoba menenangkan hatiku dan berdoa meluapkan segala hal yang ada di hatiku.

Teringat terakhir kali kita ketemu, kubilang:

aku mungkin akan blokir kontakmu ya, bisa sebulan, dua bulan atau tiga bulan, bisa saja setahun, hahaha (bercanda yg setahun loh ya!)

Jawabannya serius dong: Oh ya, nggak papa, setahun juga nggak papa kok, karena aku percaya kalau Tuhan pasti akan pertemukan kita di waktu yang tepat. 

Yah, karena aku dan dia mungkin sama-sama menyadari bahwa kalau kami bisa bertemu itu adalah waktu-waktunya Tuhan memberikan anugrah dan kesempatan untuk bertemu, itu bukan semata-mata karena kami mau saling berjanji untuk bertemu.

Lucunya, kudengar dari para pembimbingku ini, bahwa si Pria Daud sungguh-sungguh mengira bahwa kami akan betul-betul lost kontak selama satu tahun lamanya, hahahaha. Padahal perkataanku waktu itu sudah kububuhi kata "aku hanya bercanda."

Para pembimbingku ini mengarahkanku jika di pertemuan aku dan dia nanti, dia harus mengulang untuk menyatakan imannya. Kukira aku langsung bisa menjawabnya saat bertemu, ternyata masih perlu menguji minimal satu minggu untuk jadi waktu-waktu goal apakah aku akan menerimanya atau tidak. Hahaha, aku ragu sih sebenarnya menahan jawaban itu selama seminggu jika kami sudah diijinkan untuk berkomunikasi Semoga saja cerita-cerita yang Tuhan ijinkan terjadi di 1 bulan ini cukup banyak untuk kuberitahukan kepadanya selama seminggu, hahaha.

Ditunggu saja ya part kisah selanjutnya.

Akhirnya aku masih menantikan kapan saatnya kami bisa berkomunikasi lagi. Mungkin ini maksud Tuhan membuat banyak sekali.peristiwa yang terjadi di masa-masa penantian ini.

Allah turut bekerja dalam segala sesuatu, untuk mendatangkan kebaikan, bagi mereka yang mengasihi Dia, Roma 8:28

Sebuah Kisah anak SMA Part 14 (Sebuah Penantian yang Berharga)

Selamat Natal dan Tahun Baru!

Penghujung tahun ini diisi dengan sebuah ucapan singkat dan sederhana dari si Pria Daud. Aku dan dia sedang menjalani masa penantian yang sama. Dia sudah bertemu dengan para pembimbingku dan sudah menyatakan keberaniannya untuk maju kepadaku. Aku memutuskan untuk memblokir kontak selama satu bulan lebih demi membatasi komunikasi kami satu sama lain, karena aku tau, jika aku tidak memblokirnya, tentu aku akan banyak cerita dengannya lagi.

Kami saling berdiam diri bukan untuk saling cuek-cuekan, namun untuk saling memurnikan hati. Apa yang kualami selama masa penantian ini?

Ada banyak hal-hal yang terjadi yang rindu kuceritakan padanya. Aku rindu bercakap-cakap dengannya lewat telepon, entah chat, suara, bahkan video call. Aku tau ini masa-masa penantian untuk aku melihat seberapa serius pria Daud itu maju kepadaku. Aku meminta ijin memblokir kontaknya dari pertengahan Desember ini dan kami video call untuk terakhir kali sebelum hilang kontaknya kami.

Bagaimana rasanya penantian ini?

Hahaha aku sih sebenarnya tidak bermaksud untuk bucin yak! Tapi betullah ini yang kurasakan (malu kali bah kumengetiknya wkwk): aku merasa seperti kami ini dua sejoli yang harus dipisahkan selama satu bulan untuk nantinya bertemu lagi di session yang baru, yaitu pertemanan hidup. Aku merasakan kesedihan, kehilangan, namun kembali lagi aku berharap dan berlari sama Tuhan.

Saat kublokir, ini yang seringkali muncul dalam benakku...

Siapakah yang kamu andalkan dalam masa-masa ini? Bisakah pasangan menjadi satu-satunya tempat yang kamu sandari? Apakah kasih Tuhan sudah cukup buatmu? Sudahkah kamu bersyukur? Apakah benar Tuhan memberikan rasa untuk mengasihinya? Jika kamu mau berkomunikasi dengannya, belajarlah untuk komunikasi ke Tuhan dulu, baru deh Bapa akan sampaikan ke dia, si Pria Daud itu.

Akhirnya aku berdoa dan berdoa. Aku berpikir di masa pandemi ini, entah mengapa Bapa begitu baik. Relasiku dengan mantan ku diperbaikiNya. Aku begitu bersyukur dan bersukacita, ketika si doi (mantan) yang lebih muda ini memanggilku tidak lagi dengan nama, namun kembali menyapaku dengan sebutan "kakak". Wuah gilasih, kudengar kabarnya bahwa dia sudah memiliki "TH" yang baru dan aku bersyukur, tidak lagi merasa tidak enak karena aku akan memulai hubungan yang baru lagi dengan orang lain.

Di PA yang lalu bersama kakak rohaniku, aku ditanya lagi: sudah yakin?

Kujawab, Tuhan udah kasihtau jauh-jauh hari dan bahkan dianggapNya aku keras kepala kalau aku harus cari bukti lagi.

Oh ya, satu hal lagi yang kupelajari di masa penantian ini, bahwa benar pemilihan pasangan hidup ini tidaklah cukup hanya dengan modal: "aku dapatkan dia di doa", atau "Firman Tuhan bilang:..." dll hal-hal yang begitu melayang itu hehe. Firman Tuhan memang penting adanya sebagai bahan pertimbangan dari hasil doa, namun juga seharusnya diselaraskan dengan rasa dan realita. Apakah kamu dan dia sefrekuensi? Apakah kamu dan dia sejalan (sevisi)? apakah kamu dan dia di acc keluarga? Apakah karaktermu dan karakter dia bisa saling melengkapi? dan banyak hal lagi yang harusnya dipertimbangkan. Aku bersyukur sekali ada di fase ini, sebuah penantian yang berharga.

Sebuah Kisah anak SMA part 13 (Kenapa?)

Hari ini kami melayani bersama di sebuah kampus akademi di kota Yogya. Ini pertama kalinya aku melayani bersama dia. Aku pembicara, dia gitarisnya, hehehe.

Selesainya kami melayani, kami makan bersama di sebuah tempat sederhana, "Spesial Sambal" namanya. Selama perjalanan tadi ke kampus, ke tempat makan, kami awkward moment banget (karna dia udh bilang mau maju, jd buat suasana jadi aneh) Oh ya, aku pergi pelayanan bersama dia juga aku sudah ijin ke kakak rohaniku yes! Semua terakuntabilitas...

Akhirnya, begitu kami di tempat makan, sungguh kami diam-diaman di awal, lalu aku bertanya 

"Aku penasaran, kenapa sih kamu berani maju? Bukannya ini bukan kamu banget ya?"

"emang boleh aku share sekarang?"

"nggak tau juga sih, bolehlah..." (lhah iya daripada kami ketemu, awkward momen kayak tadi *dlm hati nih ngomongnya)

Jadi, sesi siang tadi akhirnya aku mendengar beberapa alasannya mengapa dia seberani itu...

Aku pun bertanya: memang kamu nggak apa-apa kalau aku melayani sepenuh waktu?

"nggak apa-apa, aku udah mempersiapkan diri bahkan kalau kamu jadi pendeta atau missionaris"

Boom, mati gue, ini serius? Aku pun bilang bagaimana rencanaku ke depan ke si Pria Daud. Dia pun bilang bahwa dia akan mendukung apapun yang mau aku lakukan ke depan asal untuk kemuliaan nama Tuhan, Hmm sungguh aku hanya diam dan senyum saja. 

Kujelaskan lagi alur U terbalik di tempat aku bertumbuh, bahwa akan ada masa di mana aku akan mendoakan sungguh-sungguh untuk memurnikan hati dan mungkin aku nggak akan hubungi dia dan bahkan memblokir dia. Aku bercanda: mungkin aku akan doakan selama setahun ini, gimana menurutmu?

Jawabannya: nggak papa, aku gpp kok, karena aku yakin, kalau Tuhan pasti akan pertemukan kita lagi...

Hahaha ngakak gue!! Yah pada akhirnya kami sama-sama berproses dan menunggu bagaimana kakak rohani akan merespon nanti. Lanjutnya di next post ya!

Sebuah Kisah anak SMA part 12 (Maju? Ini Serius!)

Halo guys, hehehe...

Hari ini adalah hari yang menyenangkan menurutku, karena aku akhirnya bisa main lagi sama si Pria Daud, setelah sekian lama kami nggak pernah pergi keluar bareng. Entah mengapa pergi keluar bareng menjadi satu kewajiban sekarang. Aku pun tak tau apa sebabnya...

Malam ini jam 23.00 lalu, Pria Daud tiba-tiba chat dan meminta ijin untuk Video Call. Tumben kurasa, karena biasanya dia akan chat dan ajak video call jika sudah di jam-jam pagi. Hmmm...

Sejujurnya aku udah pasrah sama Bapa, kamu lihat kan postinganku sebelumnya? Aku berserah aja deh sekarang..

Hari itu (malam), akhirnya kami video call, dan dia tiba-tiba serius bicara denganku. Dia akhirnya bilang serius mau maju. Waduh, aku bingung dong ya..

Kata dia, dia nggak ada perasaan apapun denganku, kok tiba-tiba dia bilang gini dan di saat yang nggak kuduga.

"Aku mau ngomong,...."

"duh, kok aku jadi deg-degan (kataku)"

"hehehe, aku juga deg-degan"

(Lah, padahal aku deg-degan cuma bercanda hehehe, eh dianya serius).

"Eh, ada nggak yang mau maju sama kamu sekarang?"

"Enggak, kenapa?"

"Gimana kalau aku maju sama kamu?" 

Oke, kali ini aku terkaget, dan responku tidak seperti yang lalu-lalu. Aku jawab, iya nggak apa-apa, silakan. Dia mulai merancang-rancang, kapan bisa bertemu dengan pembimbingku. Kali ini dia benar-benar serius untuk mengejarnya. Padahal aku tau, proses (U terbalik) seperti ini, dulu nggak disukainya.

Dia mulai berkata bahwa ada perasaan yang timbul selama kita bersama. Dia bilang:

ya, nggak mungkin dong kalau gak ada perasaan..(perasaan yang selama ini bilang nggak ada perasaan siapa coba?)

Aku bersyukur kalau fase ini ada, aku jadi benar-benar tau bahwa Tuhan setia. Baru kuingat beberapa hari lalu sebelum ini terjadi, aku menonton sebuah video kotbah seorang hamba Tuhan tentang pasangan yang sevisi. Manakah yang harus diikuti, visi suami atau istri? Jawabannya adalah: apa yang dipersatukan Allah tidak dapat dipisahkan manusia, visi Allah atau suami juga adalah visi Allah atas istri. Jika Tuhan nyatakan visi kepada istri, Tuhan harusnya juga nyatakan ke suami, sebagai konfirmasi betul, bahwa visi itu dari Tuhan.

Lalu ternyata beberapa hari lalu itu, aku berdoa:

Tuhan, kalau benar dia orangnya yang selama ini Kau tunjukkan, buat dia mendapatkan hal yang sama. Ehee.. tiba-tiba dia maju dong beneran. Sungguh aneh bukan, Tuhan kita ini, lucu betul Journey of faith ini. Ketika aku sudah nggak berharap, namun Tuhan tunjukkan jalannya. Bahkan tiba-tiba aja, aku akhirnya mulai merencanakan untuk kuliah S2 untuk mempertajam ilmu yang kumiliki. Tiba-tiba saja semua terbuka di masa-masa ini, penghujung tahun 2020.

Lalu, apakah yang akan terjadi selanjutnya?

Stay tune ya di part berikutnya.

Sebuah kisah anak SMA part 11 (Sebuah Akhir)

Janganlah kamu memberi makan perasaanmu! Janganlah membangkitkan cinta sebelum diingininya! Demikian suara hatiku mengusik. Hiduplah oleh iman! Aku mengakhiri untuk memberi makan perasaanku. Aku tau bahwa ini begitu rumit! Sebelum terlalu dalam, sebelum jatuh dalam sebuah kekecewaan, aku tidak mau memberi makan perasaanku.

Kamis, 04 Februari 2021

Sebuah Kisah Anak SMA Part 10 (Undefined Feeling)

"Aku hanya ingin bahagia bersama dengan sahabatku"

Sebuah batasan yang sudah ditaruh oleh laki-laki kepada perempuan yang diboncengnya saat itu. Aku dan dia. Terasa ada undefined feeling kurasakan ketika dia mengatakan itu. Jadi hari itu adalah hari ke dua ku untuk merasakan sensitif sebagai wanita. Entah mengapa percakapan itu membuatku sangat aneh. Aku sedih entah kenapa dan marah namun tanpa ekspresi hahaha.

Dia juga menceritakan bagaimana dia akhirnya gagal mendekati wanita yang dia sukai karena target itu sudah punya pacar baru katanya. Hmm semakin jelas bahwa memang dia tidak punya rasa apa-apa denganku. Aku semakin sedih karena sensitifitasku saat itu. Aku mulai meragukan banyak hal. Apakah aku benar-benar menyerahkan semuanya ke Tuhan? Apakah aku benar-benar berserah? Apakah aku benar-benar mengandalkan Tuhan? Perasaanku semakin dalam mungkin, namun aku tidak bisa mengakuinya karena ada batasan besar di antara kami yang dia jaga.

Aku mulai meragukan segala hal yang kudapatkan mengenai perTHan ini. Hmm aku mendoakannya, sudah yakin, namun kenapa kok rasanya tidak mungkin ya? Aku sedih marah dan gelisah. Ditambah lagi akan hadir seorang teman baru yang mau mengenalku lebih dalam. 

Respon dia saat kuberitahu: ya, bagus dong, punya teman baru!

Aku semakin kesal dan gelisah, karena responnya yang biasa saja.

Tahukah kamu? Seringkali kasusnya begini kalau sama sang Pria Daud. Aku selalu berpikir, sungguh tak mungkin kami bisa bersama karena kami berbeda. Mustahil rasanya menurutku. Namun, ketika aku berdoa kemarin, sebelum kejadian-kejadian ini, Tuhan suruh aku untuk berharap dan terus berharap meskipun tidak ada dasar untuk berharap. Seperti Abraham yang tetap percaya janji Tuhan atas hidupnya digenapi sekalipun sara mandul dan sudah uzur, tak mungkin punya keturunan.

Lalu menurut Tuhan, aku harusnya tetap berharap bahkan ketika dia bilang dia sedang mendekati wanita lain dan akan mencari di tahun depan. Waw, aku bingung dan sulit untuk mempercayainya. Dia bukanlah Tuhan kalau gak suka main teka teki.

Sebuah kisah anak SMA part 9 (Nggak mungkin!)

(kutulis ini tanggal 16 November 2020)

 

Iyaaa, kita kan friendzone! hahahaha...

Begitu katanya di video call kesekian kalinya. Bagaimana dengan responku? Ikut tertawa dalam hati sambil mengernyitkan muka. Kisah ini berlanjut lagi. Kami semakin tau keaslian masing-masing. Aku menunjukkan kebobrokkanku di depannya, diapun seperti itu, sang Pria Daud hahaha

Aku semakin hari semakin intens ngobrol, namun betul saja semakin ke sini semakin menjadi teman. Beberapa kali dia berkata "nggak mungkin kalau sama kamu, wong udah kenal kok hahaha." Aku dalem hati, ya, nggak ada yang nggak mungkin sih haha, tapi ya que sera sera, whatever will be will be!

Akupun akhirnya menganggapnya "konco kenthel" kalau istilah jawanya mah.

Lucunya, kami semakin terbuka satu sama lain dan seterbuka itu guys, ngomong sampe ngalor ngidul banget hahaha. Aku tanya: "emang gimana sih kalau kamu pdkt sama cewe?" hahahaha ngaco bet dah pertanyaanku. Dia pun mempraktekkan cara-caranya. Lucu sekali setiap aku lihat dia praktek dengan ekspresinya yang demikian hahaha.

Aku sebenarnya ragu dengan relasi ini, secara dia kan lawan jenis hahaha. Aku segera memberitahu kakak rohaniku untuk akuntabilitasnya. Kuceritakan sudah sejauh mana relasi kami. Puji Tuhan kakak ini tidak menghakimi dan menyerahkan semua keputusan ke aku. Yah, betul saja, aku memang harus punya persiapan jika memang dia tidak memilihku hahaha. Akupun tertawa begitu saja.

Suatu hari di video call kami, aku tau dia sedang memikirkan sesuatu. Sepertinya dia memang merindukan seorang pasangan sama sepertiku juga. Namun, dia insecure karena tanggung jawabnya sebagai laki-laki jika masuk fase pacaran (teman hidup) akan lebih menantang dan kurasa dia agak ragu untuk siap dengan itu. Hmmm, sejujurnya aku menunggunya, ya namun kalau memang tidak mah apa daya ya kan?

Sejujurnya aku juga tidak terlalu suka mengenal orang dengan cara pdkt, karena kurasa seseorang akan memalsukan dirinya di hadapan orang yang akan menjadi target pacarnya. Hahaha, makanya aku lebih suka berteman dengan semua orang dan siapatau salah satu dari teman itu ada yang lanjut ke fase teman hidup. Yah, mungkin prinsipnya yang satu ini berbeda dengan prinsipku. Karena memang, kami berbeda juga sih secara lingkungan. Di situlah gap kami sebenarnya, hmmm.

Kemudian, di VC 2 hari yg lalu, dia menceritakan bahwa ada temannya yang merekomendasikan seseorang untuk dia dekati. Si Pria Daud ragu untuk mendekati karena mungkin insecure tadi. Dan taukah kamu? sehari kemudian, seorang abang memberitahuku bahwa ada yang ingin berkenalan denganku. Akupun terkaget dan bingung, mengapa waktunya bisa pas gini ya? Apakah aku harus menceritakan ke si Pria Daud juga? Bahkan aku juga belum menceritakan kisahku dengan sang mantan yang akhirnya sudah berakhir dan tinggal kutunggu pengumumannya di grup. Namun, apakah seperlu itu untuk kuceritakan?

Semalam, aku dan dia VC lagi sambil bercerita lagi, dan dia agak menghindari percakapan yang mengarah kepada sang mantanku itu. Hahaha, mengapa setiap kali aku ngobrol dengannya waktu serasa cepat padahal lama loh! Bisa gitu VC 2-3 jam dan bahkan lebih. Aku mulai mengira-ira kisah ini bisa jadi akan berakhir seperti kisah di film Dilan hmm, atau bisa juga tidak hahaha. We dont know the future kan?

Aku ingat sebuah kutipan di buku Boundaries in Dating: Jangan menjalin hubungan pacaran dengan seseorang yang tidak mau kamu jadikan temanmu!
Jadi apakah pertemanan ini akan berlanjut ke relasi yang lebih serius? Atau ada temanku yang lain lagi yang akan berelasi denganku sedekat ini? Hahaha we dont know the future :)

Satu lagi: Tuhan tau kapan waktu yang tepat dan siapa orang yang tepat, bagianku adalah mengejarNya dan dekat-dekat sama Dia, jadi kalaupun ada sesuatu yang tidak sesuai ekspektasi, akupun tidak kecewa hahaha. Rasanya terus mau bilang sama Tuhan: Aku nggak mau menukarMu dengan yang lain, Engkau tetaplah cinta pertama dalam hidupku. I love You Lord!

Sebuah Kisah anak SMA part 8 (bukan Teman, tapi Sahabat)

Kayaknya kita bukan teman deh, 

jadi?

Kita Sahabat...

begitu celetukku ketika kami hampir masuk ke gang rumahku.

Tanggal 22 Oktober 2020, hari Kamis lalu. Aku mengawalinya dengan mengajak untuk makan bersama. Ini hanyalah menepati sebuah janji, bahwa memang kami akan pergi bersama untuk makan makanan haram hahaha. Hingga jam 11.30 kira-kira, dia (pria Daud) berkata: kamu acara jam berapa? Mau aku ajak ke Goa Cemara.

Sedikit delay jawabanku, namun aku bilang iya!

Pertama kali kami pergi jauh berdua. Ini pertama kalinya aku bisa bercakap-cakap dengan seorang pria, mulai dari bahasan serius hingga bercanda. Aku senang sekali hari itu. Entah apa ya yang kami bicarakan saat itu. Satu hal yang aku tau, kami semakin dekat. Weits tapi aku membatasi hatiku untuk baper dengannya. Situasinya yang tidak mendukung dan memang aku selalu menekankan bahwa, apa yang kami lakukan ini hanyalah berteman.

Aku bahkan tidak menyadari dan secara natural saja hingga banyak hal yang aku ceritakan kepadanya. Orang tua, kakak adik, bude, rumah, pelayanan, pengajaran dan banyak hal yang kami bahas. Bahkan aku tak sadar sudah sebanyak itu informasi yang kami tukarkan satu sama lain.

Aku mengingat bahwa sejak aku kecil, ibuku selalu mengajarkan kami untuk mencium tangannya sebelum pergi dan kemudian ibu akan bilang: Tuhan Yesus memberkatimu. Bahkan setiap kali aku, kakak, dan adikku akan Ujian UTS dan UAS sekolah, ibuku selalu mengajak kami berdoa bersama dan selalu doanya begini: "Tuhan Yesus, berikanlah anak-anakku ini kecerdasan seperti kecerdasan Daniel hingga 10x lipat. Hahaha, lucu sekali aku mengingatnya. Doa-doa sederhana yang berdampak besar untuk kehidupanku.

Dia pun menceritakan bagaimana Ayah ibunya mengajarkan dia cara hidup yang low profile, hidup untuk memuliakan Tuhan dalam segala keadaan hingga mencari tahu di mana kah Tuhan mau menempatkannya untuk melayani. Bahkan hingga saat ini aku tersenyum mengingatnya.

Mengapa obrolan kami jadi sedalam ini ya? Bukankah kami hanya teman saja? Itulah sebabnya aku bilang, kayaknya kami bukan teman deh, tapi sahabat.

Sejujurnya ini pertemuan kami ke sekian kali, dan entah kenapa aku selalu merasa waktu begitu cepat dan rasanya waktu ingin kuhentikan di saat-saat itu. Hahaha, kayak sinetron, lebay amat ah ya? Tapi beneran ini nyata, dan bahkan aku nggak percaya bahwa aku mengalaminya. Bagaimana bisa aku bisa senyaman ini sama sahabatku sendiri. Pertemanan yang selama ini (Hampir 10 tahun), dan pembahasan yang sedalam ini?

Aku bilang: Relasi itu tidak bergantung pada kuantitas orang-orang yang hadir, tapi kualitas kebersamaan yang terbangun di dalamnya. Hahaha, entah kenapa kata-kata itu keluar dari mulutku di perjalanan kami pulang. 

Ini kali pertama aku sangat senang dengan pemandangan yang ada. Aku sungguh senang sekali dengan momen-momen itu. Tapi aku mau tetap berharap kepada Bapaku. Aku tidak mau Bapa tidak menyetujui apa yang kuingini. Tapi satu hal yang kutau, bahwa Bapa mengetahui segala yang terbaik untuk hidup anak-anakNya. Bahkan di malam harinya aku berdoa dan menangis mengucap syukur atas hari itu, hari yang menurutku begitu indah.

Sebuah KIsah Anak SMA Part 7 (Jangan buru-buru)

Jangan terburu-buru...begitu kataku dalam hati.

Iya, beneran aku mau maju..

kenapa?

Karena kita sefrekuensi dan sudah kenal lama, ya walaupun aku tidak ada perasaan apa-apa sih.

(What? Dasar cowo gak peka)

Untung saja aku plegma, dan aku bisa menjaga ekspresi datarku hahaha. Ada cowok model begini, jujur, polos dan tetapi, betulkah itu kata-kata dari dalam hatinya?

Puji Tuhannya dia tidak bertanya bagaimana perasaanku padanya. Hahaha. Kalaupun tanya, aku belum siap jujur bahwa sempatlah aku baper di beberapa pertemuan kami. Tapi memang dalam setiap kesempatan itu, nggak ada rasa pekanya kayanya hahaha. Yaudah sih ya, aku nggak kecewa dan sedih kok, justru aku senang karena kondisinya memang nggak memungkinkan untuk lanjut ke tahap berikutnya. Terlalu abu-abu kalau mau maju sekarang hahaha. Tapi nggaktau kalau nanti di masa depan. "We dont know the future."

Sebuah komitmen tidak hanya didasari oleh perasaan cinta atau suka. Kalau suka mah sama artis korea yang ganteng-ganteng banyak. Tapi kan nggak komitmen, begitu kataku padanya. Aku senyum sumringah dan melanjutkan pertemanan ini. Aku rasa sih, ini pertemanan yang tulus dan memang kalaupun dia menemukan seseorang yang dia suka dan itu bukan aku, ya aku harus rela dong ya. Iyalah, seperti aku dan si adik dari gereja yang dulu, hubungan kami hanya sebatas kakak dan adik saja waktu itu.

Aku memulai pertemanan yang tulus dengannya sekarang. Sebagai teman yang saling mendukung satu sama lain dan mendukung semua keputusan satu sama lain. Pertemanan yang tidak mengikat dan mengatur, hahaha. Bebas rasanya melakukan apa saja yang kumau. Memang kondisi ini harus ada dan tidak perlu berlebihan. Tuhan Yesus tau yang terbaik buat kami. Aku percaya sih kalau aku nggak akan pernah kecewa kalau berharap sama Bapa.

Akan ada kisah apa selanjutnya? Aku pun tak tau, tapi perjalanan ini sungguh sangat seru.

Sebuah kisah anak SMA part 6 (Hah? Maju?)

 Hai, kamu lagi di mana?

Lagi sibuk ya?

Chat WA nya muncul di notifikasi..

Aku sedang samar-samar memikirkan, bagaimana ya hasil presentasinya? Hari itu dia harus presentasi untuk sebuah seleksi di kantornya. Aku hanya ingin tau bagaimana hasilnya. Saat chat itu muncul aku segera menjawab bahwa aku masih belum pulang. Aku masih menghabiskan makan malamku di sekretariat pelayanan. Dia menungguku pulang untuk entah apa yang akan dia katakan.

Aku tau bahwa kami tidak suka chattingan (atau hanya aku). Mengobrol langsung menjadi momen kesukaan kami dengan orang-orang yang kami kasihi. Saat itu aku sudah tau, bahwa ada dua pilihan, dia mau meneleponku atau video call WA ku.

Betul saja, sepulang aku dari sekre itu, kami ber video call, dan tiba-tiba dia menceritakan bagaimana proses presentasi yang dia lakukan di kantornya. Kabar yang mungkin kutunggu dalam hati kecilku. Hahaha hiburan dari Tuhan nih buatku. 

Tiba-tiba saja dia berkata,

"jadi aku udah berdoa dan aku kayaknya mau coba maju, itu gimana menurutmu?"

Hah? (seruku kencang)

Jujur aku senang, tapi kurasa aneh, kok secepat ini? Kubilang padanya bahwa boleh kamu maju, tapi kurasa belum saatnya, kondisinya tidak baik sekarang. Kupikir kamu perlu kukenalkan dengan seorang kakak yang mau mendengar cerita hidupnya sama sepertiku namun sesama pria. Kukatakan itu padanya, dan betul saja dia mau.

"Kamu bisa ngobrol juga nanti sama kakak ini, dia tau situasiku sekarang".

Betul saja, bahwa ini bukan saatnya, karena aku rasa aku masih perlu memperbaiki diriku. Belajar menjadi wanita yang bervisi dan belajar mengenal kehendakNya dulu. Ditambah dengan kabar putusku yang sebenarnya belum terselesaikan di satu pihak lainnya. Aku kaget dan aneh sebenernya, kenapa secepat dan semudah ini rasanya?

Di sisi lain pun aku sebenernya memang mendoakannya, namun aku masih mau mengenalnya secara natural. Namun aku pun di reminder sama Tuhan untuk tidak usah buru-buru, let it flow dan santai saja. Aku masih bertanya-tanya bagaimana sih hidup dia aslinya. Dasar pria Daud terlalu gegabah mungkin dia, hahaha. 

If I can talk to God, I will say," Thank You, and I will still love You." Aku mau bilang makasih dan aku bersyukur, namun tolong tetap jaga hatiku hingga waktunya tiba, ya Bapa. Engkau lah yang memegang semua kendali.

Sebuah kisah anak SMA part 5 (Video Call Pertama)


 

Ternyata berlanjut juga cerita ini. Hahahaha, aku tertawa dan merasa lucu jadinya...

Video call pertama waktu itu iseng aku buat rekaman layar, lagi-lagi untuk arsip pribadi saja. Kurasa ini awal pertemanan yang bagus sekali. Aku mengenalnya dan dia mulai mengenalku juga.

Hingga di satu waktu di video call berikutnya, kami deep talk, hampir selama 6 jam. Buset ngobrol apa noh lama amat nona?

Aku mengawali chat dengan "ihii...semangat nih" membalas status yang baru dibuatnya. Itulah awal mula aku rindu kembali mengobrol dengannya. Jujur, aku suka, tapi aku tidak memberi makan perasaanku saat itu, ya mungkin sedikit, hehehe.

Video call yang cukup lama aku mulai dengan menceritakan apa langkah yang akan kubuat selanjutnya, mungkin S2 atau berumahtangga dan memiliki rumah yang ada ruang doanya. Aku suka sekali dengan rencana itu, aku berharap benar-benar akan terlaksana.

Aku juga menceritakan sukacitaku yang saat itu menemukan catatan renungan ibu yang menginginkan anaknya dipersembahkan buat Tuhan.

"Aku akan mempersembahkan anak laki-lakiku sulung untuk dikuduskan bagi Allah, agar ia terpanggil untuk melayani full time, dan diperkenankan menjala jiwa dan menuntun orang-orang dari gelap kepada terangMu yang ajaib." itu isi tulisan ibu di tahun 1979, di usianya yang masih 23 tahun dan ibuku menulis keinginan itu.

Aku nangis setelah baca itu, begitu kataku kepadanya. Aku mulai menceritakan banyak hal soal keluargaku. Bagaimana pengalamanku di titik terendahku saat menjadi yatim piatu, dan lain sebagainya.

Aku saat itu hanya bermotivasi ingin dia tau, entah mengapa, memang kurasa dia temanku, sahabatku yang satu suku yang bisa kuajak bicara dengan frekuensi yang sama, dia Pria Daud itu.

Berkali-kali ia menegaskan bahwa ini adalah relasi biasa, pertemanan biasa. Aku pikir itu mekanisme pertahanan dirinya ternyata, untuk menjaga hati seorang wanita yang mudah jatuh cinta, hahaha, lucu pikirku.

Dilanjutkan dengan dia menceritakan masa lalunya yang hanya aku yang tau. Jujur ketika dia bercerita, aku tidak merasa spesial. Aku memandangnya sebagai bejana Allah yang sedang diproses untuk menjadi emas. Ceritanya membuatku menyadari bahwa ini bukan saatnya. Akupun tak mau menghindarinya. Aku tidak mau mendekatinya, hanya ini natural saja menurutku. Pertemuan pria dan wanita yang diisi dengan kisah luar biasa. Meskipun memang ada asmara dulunya, namun sejak aku tau masa lalunya, aku tetap tidak membencinya, aku hanya realistis saja bahwa tidak ada orang yang tidak berdosa.

Beberapa malam yang lalu, aku tergerak mendoakannya. Air mata tiba-tiba menetes dengan sendirinya. Kudoakan pekerjaannya, kudoakan kehidupannya. Benar saja saat dia bercerita mengenai hidupnya, aku tetap tersenyum dan hanya ingin mendukungnya. Aku tau perjalanan itu ada supaya dia bisa mengenal Tuhan Allah yang sama. Aku bersyukur untuk itu, aku senang, Tuhan mengijinkanku bisa berbincang dengannya dan tau keasliannya, sehingga aku tau kira-kira seperti apa karakter si Pria Daud ini.

Aku jadi tau alasan mengapa dia tidak suka dengan dirinya, ketidakpercayaan dirinya dan kelemahannya. Aku tidak mau ikut campur terlalu banyak untuk mendukungnya, karena aku tau, Bapaku sedang bekerja membuat dia semakin bertumbuh ke arah Dia.

Ketakutanku akan menceritakan hal-hal yang tidak perlu kuceritakan, sudah sirna. Aku percaya, bahwa ada sesuatu yang baik di depan sana. Jujur mungkin secara menusia aku berharap, namun saat kulihat kelemahannya, aku semakin menyadari kasih Bapa. Aku berdoa seolah aku sedang membela seorang jiwa biasa dan bukan Pria yang rindu kujadikan pasanganku. 

Asmara dalam hatiku mulai sirna, kasih itu mulai digantikan dengan kasih yang murni sebagai teman biasa. Aku berdoa, biar Tuhan yang terus bekerja membentuk kami berdua. Aku berdoa, mungkin itu dia, namun jika bukan, Tuhan Yesus pasti punya masa depan yang luar biasa untuk kami berdua.

Sebuah kisah anak SMA part 4 (Re-Meet: Hanya Berteman)

Jika dia memang orangnya, Tuhan. Bisakah dia beritahukan kapan ulangtahunnya tanpa kutanya?

Kami bertemu kembali 15 Agustus 2020. Sungguh tak adil rasanya ketika 2 hari yang lalu aku mengakhiri hubungan dengan si pria yang menyatakan imannya padaku, dan sekarang aku bertemu dengan pria Daud ini. Namun bukan kesalahannya juga dan aku tidak perlu menghindarinya, bukan?

Aku dan pria yang lalu akhirnya mengakhiri hubungan karena ketidakcocokan kami (aku tepatnya yang memutuskan ini), itulah sebabnya, dalam kondisi yang harusnya aku berdiam diri, malah muncul sang Pria Daud lagi.

Kami bertemu dan kami bercerita kisah kandasnya asmara pertama kami berdua. Dia asmaranya kandas karena ketidakcocokan mereka juga.

Mungkin wanita itu nggak yakin denganmu, kataku.

Iya, pria itu memang begitu kalau mau serius, harusnya memang punya rencana ke depan, katanya padaku.

Dia bingung karena wanitanya yang undur, aku bingung pula karena sifat priaku yang kuputuskan. Ternyata di pertemuan ini kutemukan jawabannya: perbedaan pria dan wanita. Sungguh membingungkan.

Ya, aku berpacaran dengan dia karena bla bla bla.. dan kata orang, kalau usianya sama, tentu akan saling dominan. Dia ulangtahun di bulan September, aku Desember, begitu katanya.

Terkaget aku dengan kata-katanya. Dia tiba-tiba saja menceritakan kapan ulangtahunnya. Semacam jawaban dari Tuhan bukan? Ah tapi nggak lah pikirku.

Aku menghabiskan waktu, lagi-lagi 4 jam bersamanya untuk mengobrolkan banyak hal. Aku menikmati waktu-waktu itu. Karena itu pertemuan pertama setelah bertahun-tahun, baru kali itu ia datang ke rumahku untuk menjemput dan mengantarku pulang. 

Dia sudah kembali melayani di gerejanya dan saat pandemi mengadakan mezbah keluarga bersama ayah dan ibunya. Wow, keren! kataku.

Ini kesempatan yang langka, katanya: kita hanya biasa bertemu setiap tahun dan sekarang kita bertemu lagi. Sungguh seperti teman tahunan.

Beberapa hari kemudian kami saling berjanji untuk bertemu lagi. Aku merasa aneh setiap kali dia datang. Hati dan perut ini sungguh tidak bisa kudeskripsikan rasanya. Aku takut ini perasaan yang salah, mengingat aku baru saja mengakhiri hubunganku dengan seorang pria. Aku menikmati waktu bersama sang Pria Daud, namun aku tidak mau menjadikan dia pelarianku. Aku bilang padanya: kamu terlalu berharga untuk dijadikan pelarian. Huh, dasar wanita, cari pelampiasan (read:aku).

Di pertemuan ke dua kami, aku menegaskan bahwa aku belum mau dekat dengan seorang pria, aku mau fokus memperbaiki diri dulu. Demikian juga dia, dia tidak sedang mencari pasangan, dia sedang mempersiapkan versi terbaik darinya untuk pasangannya nanti. Aku bertanya: kamu tidak sedang pdkt sama aku kan?

Dia menjawab: aku tidak sedang pdkt, aku hanya senang mengisi waktuku untuk mengobrolkan hal di luar pekerjaanku. Aku tidak mau mengambil untung dengan pdkt denganmu. 

Sungguh aku yang terlalu percaya diri. Di situlah dia menegaskan juga bahwa kami hanya mau berteman saja. Antara sakit namun aku sadar diri juga. Komitmen secepat ini? Mana bisa gue? Puji Tuhan dia tidak sedang mendekatiku.

Aku merasa aneh dengan pertemuan kami yang ke sekian ini. Kami mulai lebih "sering" bertemu (dari yang tahunan atau semesteran, jadi bulanan ya, lebih seringlah hitungannya). Suatu kali, bahkan kami menyempatkan untuk saling chattingan, entah ngalor ngidul juga yang diobrolkan, tapi lancar jaya panjang, weits masih sebagai teman ya seperti yang ditegaskan di awal tadi, hingga berlanjut video call selama 56 menit kira-kira (hmm, lama juga ya). Mungkin kisah ini akan berlanjut lagi dan mungkin juga tidak. Jika kalian membacanya di blog ini, artinya akan ada kelanjutan kisahnya lagi.

Sebuah Kisah anak SMA Part 3 (Sebuah Pertanyaan)

Foto: thn. 2019 pertama kali foto bersama sepulang gereja di GKJ



2017 adalah tahun di mana aku mulai getar getir karena skripsiku. Aku sungguh melupakan semua cerita lucu masa itu. Tiba-tiba seseorang mendirect message di instagramku. Aku langsung mengingat Pria Daud itu, ya itu dia orangnya.

Sebenarnya dia hanya bertanya memastikan itu adalah instagramku. Entah kenapa aku langsung memberitahunya bahwa nomor hpnya hilang karna aku mengganti HPku dan kuketikkan nomor baruku di situ.

Sebuah pesan muncul di Whatsaap. Hai, aku....(Pria Daud). Ayo kita ngobrol lagi...jika tidak salah kuingat, aku belum bisa bertemu saat itu, namun kami sempat mengobrol di chat, dan kutanyakan satu pertanyaan aneh kepadanya: "gimana menurutmu kalau aku jadi missionaris?" akupun tak tau mengapa aku menanyakan itu. Tapi memang jawaban yang diberikannya sungguh aneh dan lucu."nggak papa sih, tapi menurutku kalau kita jadi kepala daerah di RT atau RW pun sebenarnya kita udh jadi missionaris di masyarakat." Hehehe jawaban macam apa itu, aku berpikir bahwa itu adalah jawaban yang tidak sesuai ekspektasiku yang saat itu sangat bergelora untuk memberitakan kabar baik ke banyak orang.

Di satu waktu di akhir 2017, aku pun bertemu kembali dengannya. Di depan kampus III ku, di tempat makan itu. Ya, seperti biasa kami berbincang saja, bicara soal pelayanan tentunya hehehe. Aku lupa apa saja isinya, tapi saat itu ada pertanyaannya begini:

"memang gimana kriterianya di pelayanananmu, kalau misalnya mau ke jenjang yang lebih serius?"

Senin, 01 Februari 2021

Sebuah kisah anak SMA Part 2 (Perkenalan hingga Perpisahan)

Bertemu Kembali Dengan Orang Tercintanya Yang Sudah Meninggal, Benarkah  Mereka Masih Mengawasi Kita? - Parenting Fimela.com

Akhir bulan Februari 2014...

Aku merenungkan usiaku yang mulai bertambah dan gejolak anak muda yang begitu ganas di usiaku yang ke 18 tahun. Aku berdoa, Tuhan bisakah kau memberikanku seorang pacar? Permintaan polosku saat itu tanpa tau untuk apa pacaran? Demikianlah pikiran seorang muda yang belum pernah mencicipi sebuah trend yang bernama pacaran.

1 Maret 2014

"Tepat di belakang kita, idola yang lama tak jumpa, semakin bersinar dengan senyumnya...

Malu luar biasa hahaha...."

Status Facebook yang kutulis untuk mengenang masa itu. Saat di mana aku bermain ke kawasan malioboro dan aku berjalan menuruni eskalator sambil berdoa: "Tuhan, bisakah aku bertemu dengannya lagi? Pria Daud itu?" Beberapa detik kemudian..."Ah, ngawur aja, nggak mungkinlah, kami kan sudah kuliah dan bahkan tidak tau kabarnya (begitulah pikiranku menepis)."

Tiba-tiba sahabatku nyeletuk "Es, dia di belakang kita!"

Aku terkaget dan segera berpura-pura tak melihatnya, dan aku segera bersembunyi di balik pondasi di depan penjual Es Krim Mc Donald's. Hatiku berdebar, malu entah mengapa. Aku bilang ke Tuhan: "Loh kok beneran ketemu sih Tuhan? Bikin kaget aja atuh!"

Begitulah kisahku yang tiba-tiba seolah menemukan orang yang kukagumi. Sejak itu aku tertegun dan berdoa supaya di masa depan kembali bisa menemuinya. 

Sudah beberapa bulan lamanya. Aku sedang sering sekali ke perpustakaan kampus waktu itu. Masih sahabatku yang sama mengirim pesan: Es, aku lihat dia ada di perpustakaan kampus kita! Aku langsung bergegas ke sana, entah mengapa, ingin kembali melihat wajahnya, namun tidak bertemu.

Aku menghadiri sebuah acara literatur perpustakaan bersama kakakku waktu itu. Aku tiba-tiba berdoa: Tuhan, bisakah Kau pertemukan kami lagi? Hatiku selalu bilang: Nggak mungkinlah, dia kan beda kampus, ngapain ke perpus kampus lain? Hmm kecuali dia serajin itu." Aku kembali fokus mengikuti kegiatan itu. Selesai acara, aku dan kakakku sedikit berbincang dan berjalan lambat menuju parkiran.

Satu dua tiga langkah kemudian, sepasang mata menatapku dan segera aku menyadarinya.

Hai! masih ingat aku nggak? Lamunanku buyar, aku bingung rasanya, antara gugup, takut atau biasa saja? Aku kembali pura-pura melupakannya. Betul saja kami bertemu kembali, aneh deh terulang hingga dua kali. Si pria Daud dengan senyumnya berhenti, mengulurkan tangannya kepadaku.

"aku pernah lihat kamu di malioboro waktu itu, kamu sembunyi di pondasi mall, betul nggak?"

Mati gue, kok dia inget sih? Aku malu-malu dan pura-pura lupa. (Gile ya, gue kebanyakan bohongnya).

Yah, ternyata itu pertemuan kami pertama resmi sebagai seorang teman biasa. Kami bertukar nomor telepon. Di situlah aku mengenalnya sebagai seorang yang sederhana dan biasa saja. Namun, pengetahuan alkitabnya kuacungi jempol.

Apa perbedaan Petrus dan Paulus? katanya. Wih udah kayak anak pendeta ni orang bahasnya alkitab gini, (dalem hati),

Bedanya, Petrus itu nelayan dan Paulus orang berpendidikan, dan mereka sama-sama dipakai Tuhan jadi rasul yang luar biasa.

Aku tersenyum dan tertawa dengan obrolan itu. Kami asyik membicarakan pelayanan kami masing-masing. Bedanya, dia semangat sekali membicarakan KTB nya dengan kakak bimbingnya. Hanya itu yang kuingat inti dari pembicaraannya, hehe. Di situlah aku tertarik untuk dimuridkan, namun aku belum menemukan orang yang tepat untuk membimbingku secara rohani. Empat jam pun berlalu dengan cepat, menemani obrolan kami yang cukup lama. Pertemuan pertama yang cukup lama dan berbobot hehehe.

Setelah itu, aku melayang ke mana-mana rasanya, mengapa doaku dijawab lagi? Aku kadang dengan sengaja pergi ke kampus dengan melewati fakultasnya sambil berdoa bisa melihat dia jalan ke arah kampusnya. Anehnya beberapa kali Tuhan jawab juga. Aku menyapanya saja sudah menjadi kebahagiaan yang luar biasa. Kenapa bisa begitu? Akupun tak tau.

Semester 4 aku dan dia berkuliah, kami kembali bertemu untuk lari pagi bersama. Lagi-lagi kami mengobrolkan hal-hal yang begitu dalam. Akupun lupa pembicaraannya apa, yang kuingat, itu tanggal 14 Februari 2015 hari valentine. Sangat kuingat karena tanggal yang spesial.

Tiba-tiba si pria Daud ini bilang: "Kamu perempuan yang beda dari yang lain, kamu nggak malu aku ajak ketemu, nggak kayak temanku yang lain, harus ajak temennya lagi." Aku tersanjung sejujurnya, namun kuberusaha kalem (untung plegma, jadi uwe gak keliatan deh aslinya).

Sebenarnya jika perempuan dan laki-laki jalan bersama, tentu akan menimbulkan sesuatu dalam hatinya, kata dia.

Kutanya: maksudnya?

Sebuah KIsah anak SMA (Sebuah Pertemuan)

Menghargai Sebuah Pertemuan | Lintasan Penaku

Dimulai di tahun 2011....

Seorang kakak yang kukenal bersama sahabatku datang ke sebuah gedung yang lumayan luas saat itu. Aku mulai berlatih drama. Bersama dengan beberapa orang lain di ruangan itu, mungkin berjumlah sepuluh? Entah aku lupa.

Jam istirahat pun tiba, waktunya singkat, namun aku dan sahabatku bahkan tak menyadari bahwa kami belum saling berkenalan dengan teman-teman lainnya.

Aku dan dia duduk berdampingan dan sambil menunggu keringat kering. Beberapa saat kemudian, kuingat seorang pria yang baru saja duduk di kursi yang kosong di sampingnya, kala itu, mengulurkan tangannya padaku dan sahabatku. Ia menyebutkan namanya, dan aku juga bergegas menggenggam tangan itu, serta tangan laki-laki lain di sampingnya.

Ini kisah yang kuingat, jika kamu baca sebuah postingan berjudul dari Tuhan dan untuk Tuhan? Itu adalah acara yang kami sedang persiapkan untuk menampilkan drama ini. Fiuh lama juga ya, hmmm...

Suatu ketika di sebuah kebaktian pemuda seluruh SMA Yogyakarta.