Selasa, 23 Oktober 2018

Bapa Rohani seperti Bapa Jasmani?



Seorang Bapa pasti berikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Bapa juga menginginkan yang TERBAIK buat anakNya. Sekalipun sang anak tidak tau aoa maksud orangtuanya, namun sejujurnya belajar taat dan percaya sama Bapa itu sulit ya?

Saya sulit menggambarkan kasih seorang Bapa, karena
saya tidak pernah merasakan seberapa pedulinya bapa kepada saya, seberapa besar kerinduannya untuk hidup saya mendapatkan yang terbaik, dan pada akhirnya kasih semua orang tidak bisa saya lihat, karena saya sendiri tidak bisa menggambarkan kasih itu.

Mazmur 103:13
Seperti Bapa sayang kepada anak-anaknya, demikianlah Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.

TIDAK PERCAYA

Saya cenderung menganggap kasih seorang Bapa kepada saya adalah kasih yang begitu munafik. Seringkali, saya sulit mempercayai bapa rohani saya sendiri. Saya menganggap beliau “hanya” seorang bapa rohani. Padahal ternyata lebih dari itu perannya sebagai seorang bapa buat saya. Saya mendengar dari seorang kakak, bahwa bapa rohani saya mengigaukan nama anak-anak rohaninya, termasuk saya *mata mulai berkaca-kaca*

Saya bahkan tidak pernah melihat “itu” (itu = mengigaukan nama saya) terjadi. Sebegitunya kasih seorang bapa rohani. Sejujurnya melalui beliau, saya mulai melihat kasih sayang seorang bapa jasmani. Rupa Kristus nyata benar dalam hidupnya. Terlepas dari semua kekurangannya, saya selalu melihat kepolosan di wajahnya. Sekalipun orang banyak mencela apapun yang dia lakukan. Saat saya mulai termakan omongan orang, saya coba untuk klarifikasi, namun kembali lagi saya melihat ketulusan untuk semua yang ia lakukan, dengan maksud yang masuk akal tentunya.

Baru saya sadari bahwa kehadirannya di wisuda saya saat itu adalah first time dia datang untuk anak rohaninya di Jogja. Sebelumnya tidak pernah ia datang, bahkan wisuda pasangannya, atau bahkan wisuda senior saya yang lainpun tidak. Saya hanya memohon satu permintaan kepadanya:

“koko datang ya ke wisudaku!”

Kemudian dia datang. Bahkan ia bertanya banyak hal tentang apa yang harus dipersiapkannya saat datang ke wisuda saya. Dan tahukah kamu, kedatangannya pun tidak saya lihat sebagai kasih Bapa sama saya. 19 Oktober 2018, barulah saya menyadari dan mata saya terbuka. Bapa di Sorga sedang menunjukkan betapa spesialnya saya di mataNya melalui hidup seorang “Bapa Rohani” yang menggantikan kasih sayang “Bapa Jasmani”.

Tidak ada komentar: