Seorang Bapa pasti berikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Bapa
juga menginginkan yang TERBAIK buat anakNya. Sekalipun sang anak tidak tau aoa
maksud orangtuanya, namun sejujurnya belajar taat dan percaya sama Bapa itu
sulit ya?
Saya sulit menggambarkan kasih seorang Bapa, karena
saya
tidak pernah merasakan seberapa pedulinya bapa kepada saya, seberapa besar
kerinduannya untuk hidup saya mendapatkan yang terbaik, dan pada akhirnya kasih
semua orang tidak bisa saya lihat, karena saya sendiri tidak bisa menggambarkan
kasih itu.
Seperti Bapa sayang kepada anak-anaknya, demikianlah Tuhan
sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.
TIDAK PERCAYA
Saya cenderung menganggap kasih seorang Bapa kepada saya
adalah kasih yang begitu munafik. Seringkali, saya sulit mempercayai bapa
rohani saya sendiri. Saya menganggap beliau “hanya” seorang bapa rohani. Padahal
ternyata lebih dari itu perannya sebagai seorang bapa buat saya. Saya mendengar
dari seorang kakak, bahwa bapa rohani saya mengigaukan nama anak-anak
rohaninya, termasuk saya *mata mulai berkaca-kaca*
Saya bahkan tidak pernah melihat “itu” (itu = mengigaukan
nama saya) terjadi. Sebegitunya kasih seorang bapa rohani. Sejujurnya melalui
beliau, saya mulai melihat kasih sayang seorang bapa jasmani. Rupa Kristus
nyata benar dalam hidupnya. Terlepas dari semua kekurangannya, saya selalu
melihat kepolosan di wajahnya. Sekalipun orang banyak mencela apapun yang dia
lakukan. Saat saya mulai termakan omongan orang, saya coba untuk klarifikasi,
namun kembali lagi saya melihat ketulusan untuk semua yang ia lakukan, dengan
maksud yang masuk akal tentunya.
Baru saya sadari bahwa kehadirannya di wisuda saya saat itu
adalah first time dia datang untuk anak rohaninya di Jogja. Sebelumnya tidak
pernah ia datang, bahkan wisuda pasangannya, atau bahkan wisuda senior saya
yang lainpun tidak. Saya hanya memohon satu permintaan kepadanya:
“koko datang ya ke wisudaku!”
Kemudian dia datang. Bahkan ia bertanya banyak hal tentang
apa yang harus dipersiapkannya saat datang ke wisuda saya. Dan tahukah kamu,
kedatangannya pun tidak saya lihat sebagai kasih Bapa sama saya. 19 Oktober
2018, barulah saya menyadari dan mata saya terbuka. Bapa di Sorga sedang
menunjukkan betapa spesialnya saya di mataNya melalui hidup seorang “Bapa
Rohani” yang menggantikan kasih sayang “Bapa Jasmani”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar