Sebuah momen yang dinantikan oleh sepasang anak muda adalah hari esok jam 05.00 pagi.
Hari itu aku segera mempersiapkan semuanya. Tak sabar untuk bisa bersama dengan keluarga sang Pria Daud. Jadi, sang ayah menjanjikan untuk mengajak jalan bersama, jika aku dan sang Pria Daud betul-betul bersama. Akhirnya tanggal jalan-jalan pun datang juga.
Dimulai dari sebuah perjalanan menggunakan mobil Katana sederhana berisi 5 jiwa. Kalau aku menggambarkan hari itu, aku bisa katakan, sungguh ini keluarga cemara.
Keluarga yang terdiri dari Ayah, ibu, anak-anak dan calon mantunya (hahahaha)
Jika ditanya, bagaimana perasaanku? Tak akan kuragu untuk menjawab Bahagia. Begini isi otakku di saat itu kira-kira:
Aku memandang sepasang suami istri yang begitu mesra duduk di kursi depan. Mereka saling menyapa dan melengkapi dalam percakapan selama perjalanan. Sementara aku di belakang, bersama sang kakak beradik yang saling bercanda gurau ceria. Musik yang mengalun memimpin kami semua untuk bernyanyi dan tertawa, memuji Tuhan sama-sama. Sungguh musik ini satu selera dengan apa yang seringkali mangalun di telungaku setiap kali kusetel Spotifyku.
Aku melihat sebuah gambaran keluarga yang sempurna untuk kukatakan sebagai keluargaku. Momen yang selama ini begitu aku nantikan selama ini. Kasih sayang ayah dan ibu kepada anaknya. Nasihat ayah ibu kepada anak lelakinya yang begitu aktif dan jail (si adik maksudnya). Itu hal yang sudah kunantikan sejak lama. Sungguh rasanya aku ingin waktu itu berhenti saja dan melihat keindahan keluarga ini.
Sebuah perjalanan sederhana yang membuatku sadar kembali bahwa aku tak sendiri. Aku tak lagi memperjuangkan imanku sendiri. Ternyata aku bertemu dengan keluarga yang pola pikirnya mirip denganku. Kerinduan mereka dan kasih mereka kepada Tuhan, itulah hal-hal yang ingin kulihat ada dalam keluarga lengkapku dulu.
Sungguh Tuhan itu baik, pikirku. Dia membawaku kepada perjalanan hidup yang indah, sekalipun pahit di masa lalu. Tetapi Ia membuatku kuat menghadapi itu. Mulai dari kehilangan orangtua, perpecahan dalam keluarga, bertengkar tanpa tau siapa yang akan melerai, berusaha patuh pada otoritas dan tidak memiliki kendali atas mereka. Sungguh masa-masa yang berat untuk kulalui. Kalau aku ada sampai sekarang, sungguh itu semua karena Bapa.
Dia hadirkan orangtua dan keluarga impianku. Aku bersyukur karena kejadianku dahsyat dan ajaib, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar