Kayaknya kita bukan teman deh,
jadi?
Kita Sahabat...
begitu celetukku ketika kami hampir masuk ke gang rumahku.
Tanggal 22 Oktober 2020, hari Kamis lalu. Aku mengawalinya dengan mengajak untuk makan bersama. Ini hanyalah menepati sebuah janji, bahwa memang kami akan pergi bersama untuk makan makanan haram hahaha. Hingga jam 11.30 kira-kira, dia (pria Daud) berkata: kamu acara jam berapa? Mau aku ajak ke Goa Cemara.
Sedikit delay jawabanku, namun aku bilang iya!
Pertama kali kami pergi jauh berdua. Ini pertama kalinya aku bisa bercakap-cakap dengan seorang pria, mulai dari bahasan serius hingga bercanda. Aku senang sekali hari itu. Entah apa ya yang kami bicarakan saat itu. Satu hal yang aku tau, kami semakin dekat. Weits tapi aku membatasi hatiku untuk baper dengannya. Situasinya yang tidak mendukung dan memang aku selalu menekankan bahwa, apa yang kami lakukan ini hanyalah berteman.
Aku bahkan tidak menyadari dan secara natural saja hingga banyak hal yang aku ceritakan kepadanya. Orang tua, kakak adik, bude, rumah, pelayanan, pengajaran dan banyak hal yang kami bahas. Bahkan aku tak sadar sudah sebanyak itu informasi yang kami tukarkan satu sama lain.
Aku mengingat bahwa sejak aku kecil, ibuku selalu mengajarkan kami untuk mencium tangannya sebelum pergi dan kemudian ibu akan bilang: Tuhan Yesus memberkatimu. Bahkan setiap kali aku, kakak, dan adikku akan Ujian UTS dan UAS sekolah, ibuku selalu mengajak kami berdoa bersama dan selalu doanya begini: "Tuhan Yesus, berikanlah anak-anakku ini kecerdasan seperti kecerdasan Daniel hingga 10x lipat. Hahaha, lucu sekali aku mengingatnya. Doa-doa sederhana yang berdampak besar untuk kehidupanku.
Dia pun menceritakan bagaimana Ayah ibunya mengajarkan dia cara hidup yang low profile, hidup untuk memuliakan Tuhan dalam segala keadaan hingga mencari tahu di mana kah Tuhan mau menempatkannya untuk melayani. Bahkan hingga saat ini aku tersenyum mengingatnya.
Mengapa obrolan kami jadi sedalam ini ya? Bukankah kami hanya teman saja? Itulah sebabnya aku bilang, kayaknya kami bukan teman deh, tapi sahabat.
Sejujurnya ini pertemuan kami ke sekian kali, dan entah kenapa aku selalu merasa waktu begitu cepat dan rasanya waktu ingin kuhentikan di saat-saat itu. Hahaha, kayak sinetron, lebay amat ah ya? Tapi beneran ini nyata, dan bahkan aku nggak percaya bahwa aku mengalaminya. Bagaimana bisa aku bisa senyaman ini sama sahabatku sendiri. Pertemanan yang selama ini (Hampir 10 tahun), dan pembahasan yang sedalam ini?
Aku bilang: Relasi itu tidak bergantung pada kuantitas orang-orang yang hadir, tapi kualitas kebersamaan yang terbangun di dalamnya. Hahaha, entah kenapa kata-kata itu keluar dari mulutku di perjalanan kami pulang.
Ini kali pertama aku sangat senang dengan pemandangan yang ada. Aku sungguh senang sekali dengan momen-momen itu. Tapi aku mau tetap berharap kepada Bapaku. Aku tidak mau Bapa tidak menyetujui apa yang kuingini. Tapi satu hal yang kutau, bahwa Bapa mengetahui segala yang terbaik untuk hidup anak-anakNya. Bahkan di malam harinya aku berdoa dan menangis mengucap syukur atas hari itu, hari yang menurutku begitu indah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar