Selamat Natal dan Tahun Baru!
Penghujung tahun ini diisi dengan sebuah ucapan singkat dan sederhana dari si Pria Daud. Aku dan dia sedang menjalani masa penantian yang sama. Dia sudah bertemu dengan para pembimbingku dan sudah menyatakan keberaniannya untuk maju kepadaku. Aku memutuskan untuk memblokir kontak selama satu bulan lebih demi membatasi komunikasi kami satu sama lain, karena aku tau, jika aku tidak memblokirnya, tentu aku akan banyak cerita dengannya lagi.
Kami saling berdiam diri bukan untuk saling cuek-cuekan, namun untuk saling memurnikan hati. Apa yang kualami selama masa penantian ini?
Ada banyak hal-hal yang terjadi yang rindu kuceritakan padanya. Aku rindu bercakap-cakap dengannya lewat telepon, entah chat, suara, bahkan video call. Aku tau ini masa-masa penantian untuk aku melihat seberapa serius pria Daud itu maju kepadaku. Aku meminta ijin memblokir kontaknya dari pertengahan Desember ini dan kami video call untuk terakhir kali sebelum hilang kontaknya kami.
Bagaimana rasanya penantian ini?
Hahaha aku sih sebenarnya tidak bermaksud untuk bucin yak! Tapi betullah ini yang kurasakan (malu kali bah kumengetiknya wkwk): aku merasa seperti kami ini dua sejoli yang harus dipisahkan selama satu bulan untuk nantinya bertemu lagi di session yang baru, yaitu pertemanan hidup. Aku merasakan kesedihan, kehilangan, namun kembali lagi aku berharap dan berlari sama Tuhan.
Saat kublokir, ini yang seringkali muncul dalam benakku...
Siapakah yang kamu andalkan dalam masa-masa ini? Bisakah pasangan menjadi satu-satunya tempat yang kamu sandari? Apakah kasih Tuhan sudah cukup buatmu? Sudahkah kamu bersyukur? Apakah benar Tuhan memberikan rasa untuk mengasihinya? Jika kamu mau berkomunikasi dengannya, belajarlah untuk komunikasi ke Tuhan dulu, baru deh Bapa akan sampaikan ke dia, si Pria Daud itu.
Akhirnya aku berdoa dan berdoa. Aku berpikir di masa pandemi ini, entah mengapa Bapa begitu baik. Relasiku dengan mantan ku diperbaikiNya. Aku begitu bersyukur dan bersukacita, ketika si doi (mantan) yang lebih muda ini memanggilku tidak lagi dengan nama, namun kembali menyapaku dengan sebutan "kakak". Wuah gilasih, kudengar kabarnya bahwa dia sudah memiliki "TH" yang baru dan aku bersyukur, tidak lagi merasa tidak enak karena aku akan memulai hubungan yang baru lagi dengan orang lain.
Di PA yang lalu bersama kakak rohaniku, aku ditanya lagi: sudah yakin?
Kujawab, Tuhan udah kasihtau jauh-jauh hari dan bahkan dianggapNya aku keras kepala kalau aku harus cari bukti lagi.
Oh ya, satu hal lagi yang kupelajari di masa penantian ini, bahwa benar pemilihan pasangan hidup ini tidaklah cukup hanya dengan modal: "aku dapatkan dia di doa", atau "Firman Tuhan bilang:..." dll hal-hal yang begitu melayang itu hehe. Firman Tuhan memang penting adanya sebagai bahan pertimbangan dari hasil doa, namun juga seharusnya diselaraskan dengan rasa dan realita. Apakah kamu dan dia sefrekuensi? Apakah kamu dan dia sejalan (sevisi)? apakah kamu dan dia di acc keluarga? Apakah karaktermu dan karakter dia bisa saling melengkapi? dan banyak hal lagi yang harusnya dipertimbangkan. Aku bersyukur sekali ada di fase ini, sebuah penantian yang berharga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar