Kamis, 04 Februari 2021

Sebuah kisah anak SMA part 5 (Video Call Pertama)


 

Ternyata berlanjut juga cerita ini. Hahahaha, aku tertawa dan merasa lucu jadinya...

Video call pertama waktu itu iseng aku buat rekaman layar, lagi-lagi untuk arsip pribadi saja. Kurasa ini awal pertemanan yang bagus sekali. Aku mengenalnya dan dia mulai mengenalku juga.

Hingga di satu waktu di video call berikutnya, kami deep talk, hampir selama 6 jam. Buset ngobrol apa noh lama amat nona?

Aku mengawali chat dengan "ihii...semangat nih" membalas status yang baru dibuatnya. Itulah awal mula aku rindu kembali mengobrol dengannya. Jujur, aku suka, tapi aku tidak memberi makan perasaanku saat itu, ya mungkin sedikit, hehehe.

Video call yang cukup lama aku mulai dengan menceritakan apa langkah yang akan kubuat selanjutnya, mungkin S2 atau berumahtangga dan memiliki rumah yang ada ruang doanya. Aku suka sekali dengan rencana itu, aku berharap benar-benar akan terlaksana.

Aku juga menceritakan sukacitaku yang saat itu menemukan catatan renungan ibu yang menginginkan anaknya dipersembahkan buat Tuhan.

"Aku akan mempersembahkan anak laki-lakiku sulung untuk dikuduskan bagi Allah, agar ia terpanggil untuk melayani full time, dan diperkenankan menjala jiwa dan menuntun orang-orang dari gelap kepada terangMu yang ajaib." itu isi tulisan ibu di tahun 1979, di usianya yang masih 23 tahun dan ibuku menulis keinginan itu.

Aku nangis setelah baca itu, begitu kataku kepadanya. Aku mulai menceritakan banyak hal soal keluargaku. Bagaimana pengalamanku di titik terendahku saat menjadi yatim piatu, dan lain sebagainya.

Aku saat itu hanya bermotivasi ingin dia tau, entah mengapa, memang kurasa dia temanku, sahabatku yang satu suku yang bisa kuajak bicara dengan frekuensi yang sama, dia Pria Daud itu.

Berkali-kali ia menegaskan bahwa ini adalah relasi biasa, pertemanan biasa. Aku pikir itu mekanisme pertahanan dirinya ternyata, untuk menjaga hati seorang wanita yang mudah jatuh cinta, hahaha, lucu pikirku.

Dilanjutkan dengan dia menceritakan masa lalunya yang hanya aku yang tau. Jujur ketika dia bercerita, aku tidak merasa spesial. Aku memandangnya sebagai bejana Allah yang sedang diproses untuk menjadi emas. Ceritanya membuatku menyadari bahwa ini bukan saatnya. Akupun tak mau menghindarinya. Aku tidak mau mendekatinya, hanya ini natural saja menurutku. Pertemuan pria dan wanita yang diisi dengan kisah luar biasa. Meskipun memang ada asmara dulunya, namun sejak aku tau masa lalunya, aku tetap tidak membencinya, aku hanya realistis saja bahwa tidak ada orang yang tidak berdosa.

Beberapa malam yang lalu, aku tergerak mendoakannya. Air mata tiba-tiba menetes dengan sendirinya. Kudoakan pekerjaannya, kudoakan kehidupannya. Benar saja saat dia bercerita mengenai hidupnya, aku tetap tersenyum dan hanya ingin mendukungnya. Aku tau perjalanan itu ada supaya dia bisa mengenal Tuhan Allah yang sama. Aku bersyukur untuk itu, aku senang, Tuhan mengijinkanku bisa berbincang dengannya dan tau keasliannya, sehingga aku tau kira-kira seperti apa karakter si Pria Daud ini.

Aku jadi tau alasan mengapa dia tidak suka dengan dirinya, ketidakpercayaan dirinya dan kelemahannya. Aku tidak mau ikut campur terlalu banyak untuk mendukungnya, karena aku tau, Bapaku sedang bekerja membuat dia semakin bertumbuh ke arah Dia.

Ketakutanku akan menceritakan hal-hal yang tidak perlu kuceritakan, sudah sirna. Aku percaya, bahwa ada sesuatu yang baik di depan sana. Jujur mungkin secara menusia aku berharap, namun saat kulihat kelemahannya, aku semakin menyadari kasih Bapa. Aku berdoa seolah aku sedang membela seorang jiwa biasa dan bukan Pria yang rindu kujadikan pasanganku. 

Asmara dalam hatiku mulai sirna, kasih itu mulai digantikan dengan kasih yang murni sebagai teman biasa. Aku berdoa, biar Tuhan yang terus bekerja membentuk kami berdua. Aku berdoa, mungkin itu dia, namun jika bukan, Tuhan Yesus pasti punya masa depan yang luar biasa untuk kami berdua.

Tidak ada komentar: