Janganlah kamu memberi makan perasaanmu! Janganlah membangkitkan cinta sebelum diingininya! Demikian suara hatiku mengusik. Hiduplah oleh iman! Aku mengakhiri untuk memberi makan perasaanku. Aku tau bahwa ini begitu rumit! Sebelum terlalu dalam, sebelum jatuh dalam sebuah kekecewaan, aku tidak mau memberi makan perasaanku.
Aku tidak mengerti bagaimana perasaan seorang lelaki. Apakah aku yang terlalu polos atau dia terlalu polos atau kami berdua sedang berpura-pura polos?
Aku memutuskan untuk tidak lagi berharap sama dia, tapi berharap sama Bapa. Yah, kalau bukan dia yaudah, tapi kalau dia ya puji Tuhan kan, hehehe...
Oke, jika saja muncul part selanjutnya, itu pasti harusnya adalah keajaiban Tuhan. Karena berkali-kali dia berkata tidak mungkin dan aku tidak lagi mau berharap kepadanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar