"Aku hanya ingin bahagia bersama dengan sahabatku"
Sebuah batasan yang sudah ditaruh oleh laki-laki kepada perempuan yang diboncengnya saat itu. Aku dan dia. Terasa ada undefined feeling kurasakan ketika dia mengatakan itu. Jadi hari itu adalah hari ke dua ku untuk merasakan sensitif sebagai wanita. Entah mengapa percakapan itu membuatku sangat aneh. Aku sedih entah kenapa dan marah namun tanpa ekspresi hahaha.
Dia juga menceritakan bagaimana dia akhirnya gagal mendekati wanita yang dia sukai karena target itu sudah punya pacar baru katanya. Hmm semakin jelas bahwa memang dia tidak punya rasa apa-apa denganku. Aku semakin sedih karena sensitifitasku saat itu. Aku mulai meragukan banyak hal. Apakah aku benar-benar menyerahkan semuanya ke Tuhan? Apakah aku benar-benar berserah? Apakah aku benar-benar mengandalkan Tuhan? Perasaanku semakin dalam mungkin, namun aku tidak bisa mengakuinya karena ada batasan besar di antara kami yang dia jaga.
Aku mulai meragukan segala hal yang kudapatkan mengenai perTHan ini. Hmm aku mendoakannya, sudah yakin, namun kenapa kok rasanya tidak mungkin ya? Aku sedih marah dan gelisah. Ditambah lagi akan hadir seorang teman baru yang mau mengenalku lebih dalam.
Respon dia saat kuberitahu: ya, bagus dong, punya teman baru!
Aku semakin kesal dan gelisah, karena responnya yang biasa saja.
Tahukah kamu? Seringkali kasusnya begini kalau sama sang Pria Daud. Aku selalu berpikir, sungguh tak mungkin kami bisa bersama karena kami berbeda. Mustahil rasanya menurutku. Namun, ketika aku berdoa kemarin, sebelum kejadian-kejadian ini, Tuhan suruh aku untuk berharap dan terus berharap meskipun tidak ada dasar untuk berharap. Seperti Abraham yang tetap percaya janji Tuhan atas hidupnya digenapi sekalipun sara mandul dan sudah uzur, tak mungkin punya keturunan.
Lalu menurut Tuhan, aku harusnya tetap berharap bahkan ketika dia bilang dia sedang mendekati wanita lain dan akan mencari di tahun depan. Waw, aku bingung dan sulit untuk mempercayainya. Dia bukanlah Tuhan kalau gak suka main teka teki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar