Jika dia memang orangnya, Tuhan. Bisakah dia beritahukan kapan ulangtahunnya tanpa kutanya?
Kami bertemu kembali 15 Agustus 2020. Sungguh tak adil rasanya ketika 2 hari yang lalu aku mengakhiri hubungan dengan si pria yang menyatakan imannya padaku, dan sekarang aku bertemu dengan pria Daud ini. Namun bukan kesalahannya juga dan aku tidak perlu menghindarinya, bukan?
Aku dan pria yang lalu akhirnya mengakhiri hubungan karena ketidakcocokan kami (aku tepatnya yang memutuskan ini), itulah sebabnya, dalam kondisi yang harusnya aku berdiam diri, malah muncul sang Pria Daud lagi.
Kami bertemu dan kami bercerita kisah kandasnya asmara pertama kami berdua. Dia asmaranya kandas karena ketidakcocokan mereka juga.
Mungkin wanita itu nggak yakin denganmu, kataku.
Iya, pria itu memang begitu kalau mau serius, harusnya memang punya rencana ke depan, katanya padaku.
Dia bingung karena wanitanya yang undur, aku bingung pula karena sifat priaku yang kuputuskan. Ternyata di pertemuan ini kutemukan jawabannya: perbedaan pria dan wanita. Sungguh membingungkan.
Ya, aku berpacaran dengan dia karena bla bla bla.. dan kata orang, kalau usianya sama, tentu akan saling dominan. Dia ulangtahun di bulan September, aku Desember, begitu katanya.
Terkaget aku dengan kata-katanya. Dia tiba-tiba saja menceritakan kapan ulangtahunnya. Semacam jawaban dari Tuhan bukan? Ah tapi nggak lah pikirku.
Aku menghabiskan waktu, lagi-lagi 4 jam bersamanya untuk mengobrolkan banyak hal. Aku menikmati waktu-waktu itu. Karena itu pertemuan pertama setelah bertahun-tahun, baru kali itu ia datang ke rumahku untuk menjemput dan mengantarku pulang.
Dia sudah kembali melayani di gerejanya dan saat pandemi mengadakan mezbah keluarga bersama ayah dan ibunya. Wow, keren! kataku.
Ini kesempatan yang langka, katanya: kita hanya biasa bertemu setiap tahun dan sekarang kita bertemu lagi. Sungguh seperti teman tahunan.
Beberapa hari kemudian kami saling berjanji untuk bertemu lagi. Aku merasa aneh setiap kali dia datang. Hati dan perut ini sungguh tidak bisa kudeskripsikan rasanya. Aku takut ini perasaan yang salah, mengingat aku baru saja mengakhiri hubunganku dengan seorang pria. Aku menikmati waktu bersama sang Pria Daud, namun aku tidak mau menjadikan dia pelarianku. Aku bilang padanya: kamu terlalu berharga untuk dijadikan pelarian. Huh, dasar wanita, cari pelampiasan (read:aku).
Di pertemuan ke dua kami, aku menegaskan bahwa aku belum mau dekat dengan seorang pria, aku mau fokus memperbaiki diri dulu. Demikian juga dia, dia tidak sedang mencari pasangan, dia sedang mempersiapkan versi terbaik darinya untuk pasangannya nanti. Aku bertanya: kamu tidak sedang pdkt sama aku kan?
Dia menjawab: aku tidak sedang pdkt, aku hanya senang mengisi waktuku untuk mengobrolkan hal di luar pekerjaanku. Aku tidak mau mengambil untung dengan pdkt denganmu.
Sungguh aku yang terlalu percaya diri. Di situlah dia menegaskan juga bahwa kami hanya mau berteman saja. Antara sakit namun aku sadar diri juga. Komitmen secepat ini? Mana bisa gue? Puji Tuhan dia tidak sedang mendekatiku.
Aku merasa aneh dengan pertemuan kami yang ke sekian ini. Kami mulai lebih "sering" bertemu (dari yang tahunan atau semesteran, jadi bulanan ya, lebih seringlah hitungannya). Suatu kali, bahkan kami menyempatkan untuk saling chattingan, entah ngalor ngidul juga yang diobrolkan, tapi lancar jaya panjang, weits masih sebagai teman ya seperti yang ditegaskan di awal tadi, hingga berlanjut video call selama 56 menit kira-kira (hmm, lama juga ya). Mungkin kisah ini akan berlanjut lagi dan mungkin juga tidak. Jika kalian membacanya di blog ini, artinya akan ada kelanjutan kisahnya lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar