Kamis, 04 Februari 2021

Sebuah kisah anak SMA part 9 (Nggak mungkin!)

(kutulis ini tanggal 16 November 2020)

 

Iyaaa, kita kan friendzone! hahahaha...

Begitu katanya di video call kesekian kalinya. Bagaimana dengan responku? Ikut tertawa dalam hati sambil mengernyitkan muka. Kisah ini berlanjut lagi. Kami semakin tau keaslian masing-masing. Aku menunjukkan kebobrokkanku di depannya, diapun seperti itu, sang Pria Daud hahaha

Aku semakin hari semakin intens ngobrol, namun betul saja semakin ke sini semakin menjadi teman. Beberapa kali dia berkata "nggak mungkin kalau sama kamu, wong udah kenal kok hahaha." Aku dalem hati, ya, nggak ada yang nggak mungkin sih haha, tapi ya que sera sera, whatever will be will be!

Akupun akhirnya menganggapnya "konco kenthel" kalau istilah jawanya mah.

Lucunya, kami semakin terbuka satu sama lain dan seterbuka itu guys, ngomong sampe ngalor ngidul banget hahaha. Aku tanya: "emang gimana sih kalau kamu pdkt sama cewe?" hahahaha ngaco bet dah pertanyaanku. Dia pun mempraktekkan cara-caranya. Lucu sekali setiap aku lihat dia praktek dengan ekspresinya yang demikian hahaha.

Aku sebenarnya ragu dengan relasi ini, secara dia kan lawan jenis hahaha. Aku segera memberitahu kakak rohaniku untuk akuntabilitasnya. Kuceritakan sudah sejauh mana relasi kami. Puji Tuhan kakak ini tidak menghakimi dan menyerahkan semua keputusan ke aku. Yah, betul saja, aku memang harus punya persiapan jika memang dia tidak memilihku hahaha. Akupun tertawa begitu saja.

Suatu hari di video call kami, aku tau dia sedang memikirkan sesuatu. Sepertinya dia memang merindukan seorang pasangan sama sepertiku juga. Namun, dia insecure karena tanggung jawabnya sebagai laki-laki jika masuk fase pacaran (teman hidup) akan lebih menantang dan kurasa dia agak ragu untuk siap dengan itu. Hmmm, sejujurnya aku menunggunya, ya namun kalau memang tidak mah apa daya ya kan?

Sejujurnya aku juga tidak terlalu suka mengenal orang dengan cara pdkt, karena kurasa seseorang akan memalsukan dirinya di hadapan orang yang akan menjadi target pacarnya. Hahaha, makanya aku lebih suka berteman dengan semua orang dan siapatau salah satu dari teman itu ada yang lanjut ke fase teman hidup. Yah, mungkin prinsipnya yang satu ini berbeda dengan prinsipku. Karena memang, kami berbeda juga sih secara lingkungan. Di situlah gap kami sebenarnya, hmmm.

Kemudian, di VC 2 hari yg lalu, dia menceritakan bahwa ada temannya yang merekomendasikan seseorang untuk dia dekati. Si Pria Daud ragu untuk mendekati karena mungkin insecure tadi. Dan taukah kamu? sehari kemudian, seorang abang memberitahuku bahwa ada yang ingin berkenalan denganku. Akupun terkaget dan bingung, mengapa waktunya bisa pas gini ya? Apakah aku harus menceritakan ke si Pria Daud juga? Bahkan aku juga belum menceritakan kisahku dengan sang mantan yang akhirnya sudah berakhir dan tinggal kutunggu pengumumannya di grup. Namun, apakah seperlu itu untuk kuceritakan?

Semalam, aku dan dia VC lagi sambil bercerita lagi, dan dia agak menghindari percakapan yang mengarah kepada sang mantanku itu. Hahaha, mengapa setiap kali aku ngobrol dengannya waktu serasa cepat padahal lama loh! Bisa gitu VC 2-3 jam dan bahkan lebih. Aku mulai mengira-ira kisah ini bisa jadi akan berakhir seperti kisah di film Dilan hmm, atau bisa juga tidak hahaha. We dont know the future kan?

Aku ingat sebuah kutipan di buku Boundaries in Dating: Jangan menjalin hubungan pacaran dengan seseorang yang tidak mau kamu jadikan temanmu!
Jadi apakah pertemanan ini akan berlanjut ke relasi yang lebih serius? Atau ada temanku yang lain lagi yang akan berelasi denganku sedekat ini? Hahaha we dont know the future :)

Satu lagi: Tuhan tau kapan waktu yang tepat dan siapa orang yang tepat, bagianku adalah mengejarNya dan dekat-dekat sama Dia, jadi kalaupun ada sesuatu yang tidak sesuai ekspektasi, akupun tidak kecewa hahaha. Rasanya terus mau bilang sama Tuhan: Aku nggak mau menukarMu dengan yang lain, Engkau tetaplah cinta pertama dalam hidupku. I love You Lord!

Tidak ada komentar: