Kamis, 04 Februari 2021

Sebuah Kisah anak SMA Part 3 (Sebuah Pertanyaan)

Foto: thn. 2019 pertama kali foto bersama sepulang gereja di GKJ



2017 adalah tahun di mana aku mulai getar getir karena skripsiku. Aku sungguh melupakan semua cerita lucu masa itu. Tiba-tiba seseorang mendirect message di instagramku. Aku langsung mengingat Pria Daud itu, ya itu dia orangnya.

Sebenarnya dia hanya bertanya memastikan itu adalah instagramku. Entah kenapa aku langsung memberitahunya bahwa nomor hpnya hilang karna aku mengganti HPku dan kuketikkan nomor baruku di situ.

Sebuah pesan muncul di Whatsaap. Hai, aku....(Pria Daud). Ayo kita ngobrol lagi...jika tidak salah kuingat, aku belum bisa bertemu saat itu, namun kami sempat mengobrol di chat, dan kutanyakan satu pertanyaan aneh kepadanya: "gimana menurutmu kalau aku jadi missionaris?" akupun tak tau mengapa aku menanyakan itu. Tapi memang jawaban yang diberikannya sungguh aneh dan lucu."nggak papa sih, tapi menurutku kalau kita jadi kepala daerah di RT atau RW pun sebenarnya kita udh jadi missionaris di masyarakat." Hehehe jawaban macam apa itu, aku berpikir bahwa itu adalah jawaban yang tidak sesuai ekspektasiku yang saat itu sangat bergelora untuk memberitakan kabar baik ke banyak orang.

Di satu waktu di akhir 2017, aku pun bertemu kembali dengannya. Di depan kampus III ku, di tempat makan itu. Ya, seperti biasa kami berbincang saja, bicara soal pelayanan tentunya hehehe. Aku lupa apa saja isinya, tapi saat itu ada pertanyaannya begini:

"memang gimana kriterianya di pelayanananmu, kalau misalnya mau ke jenjang yang lebih serius?"

Kuterkaget dan aku pun mulai menjelaskan dengan tenang (ps: sebelum pertemuan ini, aku sudah konseling dengan kakak rohani dan memberitahunya bahwa kami akan bertemu lagi, untung udah dikasihtau kiat-kiatnya), begini kriteria pastinya:

1. Seorang Kristen yang takut akan Tuhan

2. Tau Amanat Agung

3. Satu Visi (yang kutau saat itu sevisi dan sepelayanan)

4. Bicara ke kakak rohaniku

Dia kagum padaku katanya, karena aku bisa seterbuka itu sama si pria Daud. Hahahaha aku tertawa, dan hanya bertanya-tanya. Mengapa dia berkata begitu? Seolah kawan dekatnya hanya aku saja? Aku tak tau. Selama berbincang ada beberapa hal yang kutemukan berbeda darinya denganku. Namun di titik itu kami akhiri pertemuan dengan berpisah pulang masing-masing.

Hingga suatu ketika..di tahun selanjutnya, nomor baru menghubungiku dan dia memberanikan diri mengatakan kejujurannya bahwa bukan itu saat yang tepat untuk berbicara ke kakak rohani ku. Aku pikir memang benar bukan waktunya untuk menjalani hubungan yang lebih serius. Namun aku rasa kami hanyalah teman biasa, meskipun aku tau aku pernah menyukainya.

Kembali lagi aku bertemu dengannya dan berbincang sambil jalan bersama di lapangan mahasiswa. Obrolan itu menunjukkan betapa pikiran kami berbeda, jalan kami sepertinya berbeda karena dia memilih untuk keluar dari gerejanya, sementara aku dilema untuk mempertahankan pekerjaan atau justru terjun ke pelayanan yang kusukai, dan kami hanya mencoba saling menghargai. Aku mentraktirnya sebuah makanan di daerah seturan dan aku lupa di mana. Ya, memang betullah kami memulai pertemanan ini, karena memang kami hanya teman biasa, mungkin bisa disebut teman lama ya.

Sorenya, aku mengikutinya untuk ke gereja bersama. Seusai gereja, kembali kami mengobrol sebagai teman biasa. Entah mengapa saat itu, aku inisiatif mengabadikan momen dengan mengajaknya berfoto. Tanggal 19 Mei 2019 saat itu.

Juni 2019, seseorang menyatakan imannya padaku, aku berdoa selama hampir 6 bulan untuk menjawabnya. Aku kebingungan dan aku tau, dia bukanlah sang Pria Daud itu. Aku bingung karena ada begitu banyak peristiwa yang terjadi yang harus kupikirkan saat itu. Hingga akhirnya aku menerima pernyataan imannya dan melupakan sang Pria Daud. Kemudian kehidupanku berlanjut begitu saja.

Tidak ada komentar: