Senin, 01 Februari 2021

Sebuah KIsah anak SMA (Sebuah Pertemuan)

Menghargai Sebuah Pertemuan | Lintasan Penaku

Dimulai di tahun 2011....

Seorang kakak yang kukenal bersama sahabatku datang ke sebuah gedung yang lumayan luas saat itu. Aku mulai berlatih drama. Bersama dengan beberapa orang lain di ruangan itu, mungkin berjumlah sepuluh? Entah aku lupa.

Jam istirahat pun tiba, waktunya singkat, namun aku dan sahabatku bahkan tak menyadari bahwa kami belum saling berkenalan dengan teman-teman lainnya.

Aku dan dia duduk berdampingan dan sambil menunggu keringat kering. Beberapa saat kemudian, kuingat seorang pria yang baru saja duduk di kursi yang kosong di sampingnya, kala itu, mengulurkan tangannya padaku dan sahabatku. Ia menyebutkan namanya, dan aku juga bergegas menggenggam tangan itu, serta tangan laki-laki lain di sampingnya.

Ini kisah yang kuingat, jika kamu baca sebuah postingan berjudul dari Tuhan dan untuk Tuhan? Itu adalah acara yang kami sedang persiapkan untuk menampilkan drama ini. Fiuh lama juga ya, hmmm...

Suatu ketika di sebuah kebaktian pemuda seluruh SMA Yogyakarta.

Aku dan sahabatku datang dan ikut di sana. Lagu praise dinaikkan oleh si WL, dan kemudian tatapanku mengarah pada seorang Pria yang sedang menari-nari di depan podium bersama dengan sekumpulan orang lainnya.

"Kayak Daud ya, dia narinya." Begitu kata hatiku saat itu, sambil tersenyum merasa aneh ada anak muda yang dengan begitu percaya dirinya memuji Tuhan. Beberapa detik kemudian kuingat peristiwa drama yang lalu."Bukankah itu dia? yang ikut drama dan yang menari juga seperti orang gila?"

Aku terkejut dan berbicara dengan sahabatku. Seusai ibadah, kuamati dia dari jauh dan tidak ada kesempatan untuk menjabat tangannya. Kejadian itu berlalu begitu saja.

Satu tahun berlalu untuk menantikan saat yang sama. Aku tergabung di kepanitiaan ibadah pemuda. Aku berkenalan dengan banyak teman baru, dan ternyata telingaku mendengar bahwa dia (si pria Daud) bersekolah di SMA yang berbeda. SMA kami jaraknya begitu jauh, namun hanya beda 1 angka saja.

Andai aku bisa menemuinya, andai aku bisa berkolaborasi dengannya. Begitu harapku...harapan yang konyol di usiaku yang masih belia.

Singkat cerita, ibadah pemuda ke dua pun tiba, kali ini aku jadi singer di sana. Saat pujian dinaikkan, kunyanyikan lagu dengan semangat, dan kupandang semua jemaat. Eh, ada dia di kursi ke dua bagian tengah sana. Aku mengalihkan pandanganku darinya. Apakah masih mengingatku? Kurasa tidak ya...

Sepulang acara, aku bersama sahabatku, lagi-lagi berjalan ke parkiran, dan wow pria itu pun baru saja selesai bersalaman dengan seorang kakak yang aku lupa wajahnya. Lalu badannya menyerong ke arah kami. Bergegas dia menjabat tanganku, dan berkata: "masih ingat aku nggak?"

Wah gile, ni anak masih inget gue aja (dalem hati), aku pura-pura tidak mengenalnya. Namun akhirnya kita bersalaman dan sebutkan nama bersama.

Ibadah pemuda di tahun ke tiga kuikuti, namun sepertinya aku tidak melihat sosoknya di mana-mana. Sungguh aneh, setiap tahun datang dan hanya itukah motivasinya? Bertemu dengan sang pria Daud? Hahaha, aku tertawa dan mencoba memurnikan pikiran dan hatiku. Apakah kira-kira kami akan bertemu lagi? Sungguh teka-teki.

Tidak ada komentar: