Senin, 01 Februari 2021

Sebuah kisah anak SMA Part 2 (Perkenalan hingga Perpisahan)

Bertemu Kembali Dengan Orang Tercintanya Yang Sudah Meninggal, Benarkah  Mereka Masih Mengawasi Kita? - Parenting Fimela.com

Akhir bulan Februari 2014...

Aku merenungkan usiaku yang mulai bertambah dan gejolak anak muda yang begitu ganas di usiaku yang ke 18 tahun. Aku berdoa, Tuhan bisakah kau memberikanku seorang pacar? Permintaan polosku saat itu tanpa tau untuk apa pacaran? Demikianlah pikiran seorang muda yang belum pernah mencicipi sebuah trend yang bernama pacaran.

1 Maret 2014

"Tepat di belakang kita, idola yang lama tak jumpa, semakin bersinar dengan senyumnya...

Malu luar biasa hahaha...."

Status Facebook yang kutulis untuk mengenang masa itu. Saat di mana aku bermain ke kawasan malioboro dan aku berjalan menuruni eskalator sambil berdoa: "Tuhan, bisakah aku bertemu dengannya lagi? Pria Daud itu?" Beberapa detik kemudian..."Ah, ngawur aja, nggak mungkinlah, kami kan sudah kuliah dan bahkan tidak tau kabarnya (begitulah pikiranku menepis)."

Tiba-tiba sahabatku nyeletuk "Es, dia di belakang kita!"

Aku terkaget dan segera berpura-pura tak melihatnya, dan aku segera bersembunyi di balik pondasi di depan penjual Es Krim Mc Donald's. Hatiku berdebar, malu entah mengapa. Aku bilang ke Tuhan: "Loh kok beneran ketemu sih Tuhan? Bikin kaget aja atuh!"

Begitulah kisahku yang tiba-tiba seolah menemukan orang yang kukagumi. Sejak itu aku tertegun dan berdoa supaya di masa depan kembali bisa menemuinya. 

Sudah beberapa bulan lamanya. Aku sedang sering sekali ke perpustakaan kampus waktu itu. Masih sahabatku yang sama mengirim pesan: Es, aku lihat dia ada di perpustakaan kampus kita! Aku langsung bergegas ke sana, entah mengapa, ingin kembali melihat wajahnya, namun tidak bertemu.

Aku menghadiri sebuah acara literatur perpustakaan bersama kakakku waktu itu. Aku tiba-tiba berdoa: Tuhan, bisakah Kau pertemukan kami lagi? Hatiku selalu bilang: Nggak mungkinlah, dia kan beda kampus, ngapain ke perpus kampus lain? Hmm kecuali dia serajin itu." Aku kembali fokus mengikuti kegiatan itu. Selesai acara, aku dan kakakku sedikit berbincang dan berjalan lambat menuju parkiran.

Satu dua tiga langkah kemudian, sepasang mata menatapku dan segera aku menyadarinya.

Hai! masih ingat aku nggak? Lamunanku buyar, aku bingung rasanya, antara gugup, takut atau biasa saja? Aku kembali pura-pura melupakannya. Betul saja kami bertemu kembali, aneh deh terulang hingga dua kali. Si pria Daud dengan senyumnya berhenti, mengulurkan tangannya kepadaku.

"aku pernah lihat kamu di malioboro waktu itu, kamu sembunyi di pondasi mall, betul nggak?"

Mati gue, kok dia inget sih? Aku malu-malu dan pura-pura lupa. (Gile ya, gue kebanyakan bohongnya).

Yah, ternyata itu pertemuan kami pertama resmi sebagai seorang teman biasa. Kami bertukar nomor telepon. Di situlah aku mengenalnya sebagai seorang yang sederhana dan biasa saja. Namun, pengetahuan alkitabnya kuacungi jempol.

Apa perbedaan Petrus dan Paulus? katanya. Wih udah kayak anak pendeta ni orang bahasnya alkitab gini, (dalem hati),

Bedanya, Petrus itu nelayan dan Paulus orang berpendidikan, dan mereka sama-sama dipakai Tuhan jadi rasul yang luar biasa.

Aku tersenyum dan tertawa dengan obrolan itu. Kami asyik membicarakan pelayanan kami masing-masing. Bedanya, dia semangat sekali membicarakan KTB nya dengan kakak bimbingnya. Hanya itu yang kuingat inti dari pembicaraannya, hehe. Di situlah aku tertarik untuk dimuridkan, namun aku belum menemukan orang yang tepat untuk membimbingku secara rohani. Empat jam pun berlalu dengan cepat, menemani obrolan kami yang cukup lama. Pertemuan pertama yang cukup lama dan berbobot hehehe.

Setelah itu, aku melayang ke mana-mana rasanya, mengapa doaku dijawab lagi? Aku kadang dengan sengaja pergi ke kampus dengan melewati fakultasnya sambil berdoa bisa melihat dia jalan ke arah kampusnya. Anehnya beberapa kali Tuhan jawab juga. Aku menyapanya saja sudah menjadi kebahagiaan yang luar biasa. Kenapa bisa begitu? Akupun tak tau.

Semester 4 aku dan dia berkuliah, kami kembali bertemu untuk lari pagi bersama. Lagi-lagi kami mengobrolkan hal-hal yang begitu dalam. Akupun lupa pembicaraannya apa, yang kuingat, itu tanggal 14 Februari 2015 hari valentine. Sangat kuingat karena tanggal yang spesial.

Tiba-tiba si pria Daud ini bilang: "Kamu perempuan yang beda dari yang lain, kamu nggak malu aku ajak ketemu, nggak kayak temanku yang lain, harus ajak temennya lagi." Aku tersanjung sejujurnya, namun kuberusaha kalem (untung plegma, jadi uwe gak keliatan deh aslinya).

Sebenarnya jika perempuan dan laki-laki jalan bersama, tentu akan menimbulkan sesuatu dalam hatinya, kata dia.

Kutanya: maksudnya?

Iya, aku ada sesuatu sama kamu, kamu gimana?

Kujawab jujur, aku juga, tapi aku masih kuliah dan masih belum mau menjalani itu (kebanyakan ita itu, sebut saja pacaran), aku pikir, kita sebagai mahasiswa kuliah dulu yang bener, kemudian nanti kalau sudah kerja, baru deh bisa pacaran. Aku maunya pacaran sekali seumur hidup.

Wah, setuju, aku setuju, kita satu pandangan. Katanya saat itu. Hari itu, kami kembali ngobrol ngalor ngidul soal masing-masing kehidupan kami.

Demikianlah kisah asmara anak muda yang kukira ini hanya cinta monyet biasa.

September 2015

Aku sudah dimuridkan, puji Tuhan. Aku mulai dibagikan materi tentang teman hidup. Kakak yang membimbingku bertanya:

"apakah ada orang yang kamu suka?"

Dia membagikan beberapa dasar firman mengenai kapan sebaiknya mulai berpacaran (berTH). Aku yang begitu tertegur dengan isi firmannya, langsung jujur dengan kakak ini. Seketika itu juga, si kakak menyarankanku untuk tidak lagi bertemu dengan pria Daud ini. Akupun jadi ilfeel untuk bertemu dengannya, entah mengapa. Asmara itu runtuh seketika, hehehe.

Entah di tanggal berapa kami berdua sudah terlanjur saling berjanji untuk bertemu. Aku berdoa kepada Tuhan: Tuhan, gimana cara ngomongnya? Aku takut dia marah dan kecewa. Sengaja di hari itu aku pura-pura lupa akan janjian kami. Ternyata dia sudah menunggu 1 jam di lokasi itu. Aku bergegas datang dan kami mengobrol di sana. Aku dan dia bercerita seperti biasa sambil kucari kapan waktu yang tepat untuk membicarakannya.

Kami memutuskan untuk berpindah ke sebuah tempat makan, kami makan bersama dan di situlah dia bicara:

"aku cerita ke kakak rohaniku tentang pertemuan kita, kata dia (kakak rohaninya), laki-laki dan perempuan bertemu tanpa tujuan, akan melahirkan dosa."

Wah inilah saatnya, aku bicara: aku juga, dan kakak rohaniku bilang, kita nggak perlu ketemu dulu, biar kita fokus ke studi masing-masing. Kalau Tuhan berkehendak, pasti Dia bakal pertemukan kita lagi kok 😄

Jadi, kita nggak bisa ketemu lagi ya? Kata dia.

Ya, aku nggak tau sih, kalau Tuhan berkehendak, kita bakal ketemu lagi kok, begitu kataku.

Sebuah kata perpisahan yang ambigu bukan?

Aku berharap bertemu lagi, tapi mungkin juga tidak saat itu. Aku yang baru saja berkomitmen untuk sungguh-sungguh mengenal Tuhan, tidak mau memikirkan hal ini dengan begitu serius. Toh benar aja kan, kalo Tuhan berkehendak, kita akan bertemu lagi.

Tidak ada komentar: